Juli 07

2021

Rencana Revitalisasi Kawasan Makam Sunan Drajat Lamongan

Kabupaten Lamongan tercatat memiliki banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan baik itu wisata alam, wisata sejarah maupun wisata religi. Salah satu destinasi wisata religi yang ada di Kabupaten Lamongan adalah Makam Sunan Drajat yang terletak di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.

Selayang Pandang Tentang Sunan Drajat

Sunan Drajat adalah salah satu Wali Songo (Wali Sembilan), yakni tokoh-tokoh yang berperan penting dalam dakwah Islam pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi.

Sunan Drajat merupakan putra bungsu Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila. Sunan Drajat yang juga adik Sunan Bonang ini diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi dengan nama Raden Qasim.

Sunan Drajat memiliki banyak nama, seperti Raden Kasim (Qasim), Masaikh Munat, Raden Syarifuddin, Maulana Hasyim, Pangeran Kadrajat, Sunan Mayang Madu, dan yang paling masyhur adalah Sunan Drajat.

Sunan Drajat dikenal sebagai pendakwah Islam yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, memberikan perhatian penuh terhadap kaum fakir miskin, dan mengutamakan kesejahteraan sosial masyarakat. Ajaran Sunan Drajat lebih menekankan pada empati dan etos kerja keras berupa kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong royong.

Sunan Drajat juga dikenal masyarakat dengan ajaran prinsipnya, yaitu Pepali Pitu (tujuh dasar ajaran). Berikut ini Pepali Pitu yang merupakan tujuh prinsip dasar yang dijadikan pijakan dalam kehidupan yang diajarkan oleh Sunan Drajat:

  1. Memangun resep tyasing sasama (Kita selalu membuat senang hati orang lain);
  2. Jroning suka kudu eling lan waspada (Dalam suasana gembira, hendaknya tetap ingat Tuhan dan selalu waspada);
  3. Laksianing subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah (Dalam upaya mencapai cita-cita luhur, jangan menghiraukan halangan dan rintangan);
  4. Meper Hardaning Pancadriya (Senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu inderawi);
  5. Heneng - Hening - Henung (Dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam hening, akan mencapai jalan kebebasan mulia);
  6. Mulya guna Panca Waktu (Pencapaian kemuliaan lahir batin dicapai dengan menjalani shalat lima waktu); dan
  7. Menehono teken marang wong kang wuto. Menehono mangan marang wong kang luwe. Menehono busana marang wong kang wuda. Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (Berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian. Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan)

Gambaran Sekilas Tentang Kompleks Makam Sunan Drajat

Kompleks Makam Sunan Drajat terdiri dari 3 teras. Teras ketiga terletak paling belakang dan paling tinggi serta terdapat cungkup Makam Sunan Drajat. Cungkup tersebut merupakan sebuah bangunan tembok di mana di bagian dalamnya terdapat tiga bagian, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. 

Bagian depan merupakan tempat makam para kerabat Sunan Drajat. Antara bagian depan dan bagian tengah terdapat sebuah sekat yang terbuat dari kayu.

Bagian tengah merupakan tempat makam bagi tiga putra Sunan Drajat dan tiga menantunya. Sementara pada bagian belakang, terdapat sebuah cungkup yang terbuat dari kayu. Di dalam cungkup itulah Sunan Drajat dan istrinya dikebumikan.  

Bangunan lain yang melengkapi situs Makam Sunan Drajat adalah Gapura yang bernama Gapura Kori Agung dan Gapura Supit Urang.

Gapura Kori Agung merupakan gapura yang beratap dan berpintu yang fungsi utamanya adalah sebagai pintu utama dari Kompleks Makam Sunan Drajat. Kori Agung tersebut mempunyai dua gapura yang bentuknya sama. 

Gapura Supit Urang disebut juga Candi Bentar yang merupakan gapura yang tidak beratap dan tidak berpintu. Disebut supit urang karena bentuk asli dari gapura tersebut menyerupai tangkai supit udang. Gapura tersebut dibangun oleh Pangeran Hadi Kusumo pada tahun 1573. Namun, gapura tersebut hancur dan hanya menyisakan pondasinya saja akibat gempa bumi pada tahun 1950.

Selain gapura tersebut, di Komplek Makam Sunan Drajat juga terdapat Balai Rantai yang lokasinya terletak di sebelah timur Gapura Candi Bentar yang merupakan balai atau pendopo pertemuan dan tempat peristirahatan kecil yang beratapkan sirat dan bertiang enam buah dengan dihiasi ukiran rantai.

Museum Sunan Drajat

Benda-benda peninggalan Sunan Drajat masih dapat kita jumpai di Musem Sunan Drajat yang berlokasi di dalam Kompleks Makam Sunan atau tepatnya berada di sebelah timur cungkup makam Sunan Drajat.

Museum Sunan Drajat memiliki koleksi perunggu, keramik, kayu jati, terakota, batu besi, kulit, kuningan, baja kertas, lontar dan bambu, alumunium, logam, buku dan kertas, kain, dan bedug. Museum Sunan Drajat juga menampilkan koleksi unggulan berupa gamelan Singo Mengkok, Batik Drajat, dan daun lontar.

Sebagai informasi, Museum Sunan Drajat diresmikan pada 1 Maret 1992 oleh Gubernur Jawa Timur saat itu, Basofi Sudirman. Pembangunan museum tersebut diprakarsai oleh Bupati Lamongan, H.R. Mohammad Faried, S.H, sebagai bentuk penghormatan jasa-jasa Sunan Drajat.

Museum Sunan Drajat berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lamongan dan dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Sunan Drajat.

Revitalisasi Kawasan Makam Sunan Drajat

Sebagai upaya melestarikan Cagar Budaya Kawasan Makam Sunan Drajat, Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melaksanakan revitalisasi kawasan Makam Sunan Drajat. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari surat yang disampaikan oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, beberapa waktu yang lalu.

Terkait hal tersebut, Bupati Yuhronur didampingi oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan, Miftah Alamuddin, serta  pejabat terkait menerima kedatangan tim Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur, Direktorat Penataan Bangunan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di ruang kerjanya, Rabu (7/7/2021).

Dalam paparannya, Any Virgyani, tim Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur, menjelaskan bahwa lingkup yang menjadi prioritas revitalisasi di kawasan Makam Sunan Drajat ini meliputi pekerjaan Gapura Agung, pagar, dan kanopi, serta lantai pedestrian.

"Prioritas utama akan mengganti semua kanopi beserta lantainya, mulai pintu utama yaitu Gapura Agung sampai ke depan Masjid, serta memastikan tidak akan membuat gapura baru atau replika demi mempertahankan keaslian bangunannya" kata Any Virgyani.

Apabila ada bagian dari bangunan asli itu mengalami kerusakan yang berat, maka akan diganti dengan material yang baru. Jika bagian bangunannya masih utuh, maka pihaknya hanya akan melakukan coating menggunakan minyak atsiri sesuai rekomendasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). 

Misalnya Gapura Agung, hanya dilakukan rehabilitasi atau renovasi saja, terutama bagian atapnya. Rencana untuk atap akan dibuatkan baru dengan kayu jati. Berdasarkan identifikasi bersama BPCB, Gapura Agung tersebut kondisinya masih asli, bahkan daun pintunya pun masih asli.

Sedangkan bagian bawah gapura akan digali untuk menemukan struktur pondasi gapura yang kondisinya saat ini sudah tertutup karena terjadi peninggian lantai pedestrian. Gapura akan dibongkar kemudian dirakit kembali. 

Untuk bagian pagar, rencananya akan diganti dengan yang baru, karena pagar itu bukanlah bangunan asli, yang asli cuma 1 saf di dekat gapura, sekitar 10 batang saja.

Hal yang sama juga akan dilakukan pada bagian kanopi dan lantai pedestrian. Konstruksi bangunannya akan dibuatkan baru, namun arsitektur dan materialnya dibuat serupa dengan bentuk aslinya.

Untuk kanopi, akan dikembalikan bentuk kanopi seperti bentuk awalnya dulu dengan material juga sesuai zaman dulu yakni kayu jati. Serta diperkuat pondasinya karena struktur tanahnya bersifat labil.

Selain ketiga bagian yang menjadi prioritas revitalisasi tersebut, pengerjaan revitalisasi juga akan menyasar di titik lain, seperti pada area anak tangga dekat parkir dan Balai Rantai.

Pekerjaan revitalisasi di kawasan Makam Sunan Drajat ini diperkirakan akan dimulai pada awal September mendatang. Pada saat ini masih proses  tender. Mulai pengerjaan paling lambat awal September, kalau tidak ada kendala di proses tendernya. 

Bupati Yuhronur sangat bersyukur karena revitalisasi kawasan Makam Sunan Drajat akan segara terlaksana. Bupati Yuhronur juga mengaku lega karena kegiatan revitalisasi akan dilakukan di kawasan Makam Sunan Drajat dengan tetap mempertahankan bangunan aslinya. 

"Yang terpenting tidak menghilangkan historis dari bangunan-bangunan penting yang ada di situ. Jadi ini salah satu ikon kita Kabupaten Lamongan sebagai wisata religi. Jadi nanti selain wisata religi Makam Sunan Drajat ini, di sana (Paciran, Kabupaten Lamongan) kan ada makam Sendang Duwur, Syekh Maulana Ishaq yang nanti saya ingin menjadi satu alur wisata," kata Bupati Yuhronur.

Untuk diketahui, Makam Sunan Drajat telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.56/PW.007/MKP/2010 yang ditetapkan pada tanggal 22 Juni 2010.