DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

Kategori berita

5 Tempat Wisata Favorit Pengunjung Paling Diminati di Lamongan

Bangkit dari pandemi, sejumlah lokasi wisata di Lamongan mulai bergeliat. Angka kunjungan wisata di Lamongan tercatat mengalami kenaikan signifikan.Meski banyak tumbuh lokasi-lokasi wisata baru di Lamongan, sejumlah lokasi wisata tampaknya jadi favorit pengunjung. Tidak itu saja, beberapa lokasi favorit pengunjung tersebut di antaranya adalah lokasi wisata religi yang memang banyak ditemukan di Lamongan."Kawasan wisata yang ada di Pantura Lamongan, rata-rata yang paling banyak dikunjungi wisatawan," kata Kepala Disparbud Lamongan Siti Rubikah, Sabtu (28/1/2023).1. Kompleks Makam Sunan Drajat PaciranWisata Religi nampaknya masih menjadi favorit pengunjung wisata di Lamongan selama tahun 2022. Hal ini nampak dari angka kunjungan di sejumlah lokasi wisata religi yang berada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran ini. Makam Sunan Drajat masih menjadi tempat favorit yang paling banyak dikunjungi pada tahun 2022, dengan jumlah wisatawan nusantara sebanyak 1.853.116 orang.Sunan Drajat dikenal sebagai seorang wali yang sangat memperhatikan kesejahteraan kaum fakir miskin. Sunan Drajat juga dikenal sebagai pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Di kompleks makam Sunan Drajat ini, kita juga bisa melihat koleksi peninggalan masa lampau dari Sunan Drajat di Museum Sunan Drajat yang lokasinya masih dalam kompleks makam.Museum Sunan Drajat adalah Museum Khusus yang menyimpan benda peninggalan Sunan Drajat yang digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam, serta benda bersejarah lainnya. Museum ini terletak diatas lahan seluas 4 hektar. "Museum Sunan Drajat difungsikan pada 30 Maret 1992 dan dikelola oleh Pemkab Lamongan," terangnya.2. Wisata Religi Makam Maulana IshaqUrutan kedua lokasi favorit pengunjung wisata di Lamongan masih seputar wisata religi, yaitu Wisata Religi Makam Maulana Ishaq yang juga berada di Kecamatan Paciran, dengan jumlah 1.367.271 wisatawan nusantara.Makam yang satu ini lokasinya berdekatan dengan laut dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Tidak hanya itu saja, di samping makam tersebut juga terdapat sebuah masjid 2 lantai, yaitu Masjid Al Abror yang dibangun di atas lahan 5 Hektar. "Makam Maulana Ishaq ini berlokasi di Desa Kemantren, Kecamatan Paciran," ujar Rubikah.3. Wisata Bahari Lamongan (WBL)Wisata Bahari Lamongan merupakan wisata yang terpopuler di Lamongan. Letaknya adalah di Jl. Raya Paciran, Desa/Kecamatan Paciran. Wisata Bahari Lamongan yang diresmikan pada 14 November 2004 oleh H. Masfuk, Bupati Lamongan saat itu, adalah lokasi wisata selanjutnya di Lamongan yang menjadi favorit kunjungan ketika berada di Lamongan."Kawasan wisata yang ada di Pantura Lamongan rata-rata yang paling banyak dikunjungi," jelas Rubikah.Wisatawan sangat direkomendasikan mengunjungi WBL. Sarana hiburan yang cocok bagi pasangan maupun keluarga dengan berbagai fasilitas, wahana, dan pemandangan pantai yang ditawarkan menambah nilai plus wisata ini. "WBL selalu mengupdate wahana, fasilitas, dan system yang ada guna memanjakan dan mempermuda wisatawan," paparnya.4. Maharani Zoo dan Goa (Mazoola)Masih berada satu kompleks dengan WBL, Maharani Zoo dan Goa (Mazoola) juga berada di Desa/Kecamatan Paciran. Selain bisa menikmati indahnya goa stalakmit, di Mazoola pengunjung juga bisa menikmati beragam koleksi satwa yang ada di Mazoola ini.Suasana pantai dan aneka satwa serta wahananya yang ada di 2 lokasi yang berhadapan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal Lamongan maupun luar kota. Selama libur Nataru inipun, WBL dan Mazoola juga menyajikan berbagai event khusus untuk menghibur pengunjung."WBL dan Mazoola ini juga menjadi lokasi favorit pengunjung," aku Rubikah.5. Wisata Religi Masjid NamiraMasjid Namira yang berada di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung ternyata juga masih menjadi lokasi favorit pengunjung. Desain masjidMasjid yang beroperasi sejak awal juni 2013 ini awalnya mampu menampung kurang lebih 500 jeamaah. Pada awal Oktober 2016, masjid telah diperbarui dengan menambah bangunan seluas 2,7 hektare sehingga total luas bangunannya menjadi 2.750 meter persegi. Kapasitas jemaah pun bisa menampung hingga 5 kali lipat dari awalnya.Bangunan Masjid Namira tidak terlalu berbeda dengan masjid-masjid besar yang ada di Indonesia. Keunikan masjid ini adalah keberadaan kiswah ka'bah di tempat imam. Masjid Namira selalu ramai pengunjung danLalu disusul urutan ketiga yakni Wisata Bahari Lamongan (WBL) dengan jumlah 452.390 wisatawan nusantara dan 16 mancanegara."Kawasan wisata yang ada di Pantura Lamongan rata-rata yang paling banyak dikunjungi. Selain itu juga ada wisata Maharani Zoo dan Goa dengan 329.389 wisatawan dan Museum Sunan Drajat dengan 204.469 wisatawan. Wisata Religi Masjid Namira 479.791 wisatawan," tambahnya.Selain tempat wisata yang telah disebutkan itu, terang Rubikah, terdapat wisata lainnya di Lamongan yang mampu menarik pengunjung, baik dari wisatawan nusantara maupun mancanegara.Di antaranya Makam Sendangduwur, Waduk Gondang, Pemandian Air Hangat Brumbun. Kemudian Wego, Pantai Kutang, Makam Nyai Andongsari, Agrowisata Besur, Wisata Trinil, G-Park, Istana Gunung Mas, Kolam Renang Oro-Oro Ombo Mantup, Wisata Edukasi Kampung Inspirasi Tlogoanyar, Makam Joko Tingkir, Bumi Perkemahan Moronyamplung dan Monumen Van Der Wijck."Kami akan terus menggenjot agar wisatawan semakin banyak yang berdatangan ke Lamongan melalui sejumlah event. Dengan begitu nantinya sektor pariwisata akan mampu menggerakkan roda perekonomian daerah," pungkasnya.Sumber : detik.com

Selengkapnya
Saus Boran Menyelamatkan Syahril di Master Chef

Halo Sobat Disparbud, kali ini mimin mau membahas makanan tradisional Kebanggan warga Lamongan, yaitu Nasi Boran. Ternyata makanan tradisional ini bisa disajikan menjadi hidangan yang berkelas, seperti yang ditampilkan Yak Syahril diajang audisi memasak Master Chef Indonesia season 10.Dalam ajang tersebut pula para juri mengapresiasi cita rasa dari bumbu (saus) boran tersebut. Di mana saus tersebut yang dapat meloloskan Syahril menuju galeri master chef.Tentunya hal tersebut menjadi sebuah momentum untuk memperkenalkan salah satu makanan tradisional khas Lamongan (Nasi Boran) ke kancah Nasional.

Selengkapnya
Keindahan dan Keunikan Lamongan Disuguhkan dalam Film ‘Land Of Blessings’

Keindahan dan keunikan Lamongan dikemas dalam Film dokumenter berjudul ‘Land Of Blessings’. Film ini tengah digarap oleh Sutradara kondang Adi Surya Abdy. Memiliki durasi 40 menit dan siap ditonton pada akhir Februari mendatang.Adi Surya Abdy mengungkapkan, dipilihnya judul film ‘Land Of Blessings’ itu lantaran wilayah di Kabupaten Lamongan memiliki daya tarik yang luar biasa mulai dari keindahan alam, seni, budaya, tradisi hingga human interestnya.“Land Of Blessings ini artinya tanah yang diberkahi. Kalau kita pelajari tentang sejarah Lamongan, maka akan ada banyak (sisa peninggalan) mulai dari era Airlangga hingga pasca Airlangga, juga Lamongan ini diyakini sebagai lokasi lahirnya Gajah Mada, dengan keberadaan ibunya Dewi Andongsari. Banyak juga ditemukan prasasti batas-batas wilayah, beragam potensi, dan hasil buminya yang melimpah,” kata Adi, Sabtu (21/1/2023).Digarapnya film dokumenter tentang Lamongan ini, menurut Adi, bertujuan untuk mempromosikan potensi dan kekayaan seni budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Lamongan. Dengan begitu, imbuh Adi, beragam potensi dan kekayaan Kabupaten Lamongan itu bisa semakin dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di nusantara.“Paling tidak, semua hal itu harus kita ekspos agar orang lebih bisa mengenal Lamongan. Di samping itu Lamongan juga memiliki kekuatan etnik, kekayaan seni budaya dan tradisi, yang sebetulnya ini juga perlu kita ekspos, sehingga minimal orang Lamongan sendiri tahu di mana ia tinggal dan berdiri. Apalagi jika secara nasional, maka ini suatu hal yang luar biasa,” terangnya.Ditegaskan oleh Adi, aktor atau talent yang dilibatkan dalam pembuatan film ini seluruhnya adalah warga Lamongan asli. Talent-talent ini diperlukan untuk bisa menghantarkan dan membawa pesan yang ingin disampaikan kepada para penonton film nantinya.Selain itu, dilibatkannya talent dari warga lokal ini dalam rangka menggali potensi masyarakat Lamongan. Para talent itu mendapatkan training dari sutradara dan dilakukan tanpa casting. Terdapat pula pemeran sepasang kekasih yang menjadi tokoh sentra dalam film ini, yakni Sogi dan Vira Lovie, aktor lokal Lamongan.“Kalau kita menggarap film dokumenter dan hanya memperlihatkan tempat-tempat kan tidak menarik. Maka alur cerita, benang merahnya itu kita bikin non fiksi. Jadi ada tokoh yang menghantarkan, ada narasi-narasi, ada musik tradisi, musik religi dan lainnya,” bebernya.Lebih lanjut, Adi menuturkan, lamanya syuting film dokumenter Land Of Blessings ini setidaknya memakan waktu sekitar 7 hari atau seminggu, yang dilakukan di beberapa lokasi di Lamongan. Film ini, ujar Adi, memiliki durasi maksimal 40 menit dan bisa ditonton oleh masyarakat pada akhir Februari 2023 mendatang.“Syuting 7 hari. Insya Allah akhir Februari paling sudah bisa ditonton. Syuting dilakukan di beberapa lokasi, kemarin aja ada 8 shine. Di Paciran, kita syuting di galangan kapal, dermaga kapal-kapal nelayan, dan makam Sunan Drajat. kita juga ada syuting lagi besok di Lamongan kota sampai malam. Kemudian di Ngimbang, Makam Nyai Ratu Andongsari. Lalu di Desa Pancasila, Balun,” paparnya.Uniknya lagi, bahasa dan dialog dalam film Land Of Blessings ini menggunakan bahasa Jawa, Lamongan asli. Film ini juga menampilkan seni Tari Boran dan Tari Mayang Madu.“Kita pakai dialog bahasa asli Lamongan, bahasa Jawa. Karena ini bagian dari pemajuan kebudayaan sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, ada 10 unsur (objek) pemajuan kebudayaan, di antaranya kan ada tradisi lisan dan bahasa yang dipelihara. Film ini sekaligus mengenalkan bahwa Indonesia memiliki budaya, tradisi dan bahasa yang beragam,” jelasnya.Adi berharap, film yang mengangkat tentang keragaman di Lamongan ini tak hanya berhenti di sini saja. Pasalnya, masih banyak tradisi, seni budaya serta potensi Lamongan yang perlu diekspos dan dikenalkan lebih mendalam lagi.“Kita harap tidak hanya berhenti di sini. Lamongan kan banyak, masih ada sedekah bumi, sedekah laut, dan tradisi lainnya yang unik. Ini (film) adalah pilot project. Kita juga harus mengapresiasi dukungan yang telah diberikan Pemerintah Kabupaten, Bupati, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, serta sejumlah pihak seperti penari dan masyarakat,” tandasnya.Dalam kesempatan yang sama, Kepala Disparbud Lamongan, Siti Rubikah menyambut baik atas digarapnya film Land Of Blessings ini. Pihaknya juga mengajak kepada seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam mewujudkan kejayaan Lamongan yang berkeadilan.“Tentu kami menyambut baik agar proyek ini bisa segera selesai. Semoga segala keindahan dan keunikan Lamongan bisa dikenal secara lebih luas. Mari terus berkolaborasi dan bersinergi dalam membangun kabupaten kita tercinta ini, demi mewujudkan kejayaan Lamongan yang berkeadilan. Semua harus saling bahu membahu,” pungkas Kepala Disparbud Lamongan.Sumber : beritajatim.com

Selengkapnya
Tahu Campur Lamongan: Daging Empuk, Kuah Rempahnya Terasa Banget

Kabupaten Lamongan menyimpan beragam kuliner khas dengan citarasa yang sangat menggoda, salah satunya adalah tahu campur Lamongan. Bagi anda yang berkunjung ke Lamongan, maka tak ada salahnya jika menyempatkan diri untuk mencicipi makanan khas Lamongan yang satu ini.Tak perlu bingung, tahu campur juga sangat mudah ditemukan. Pasalnya, masakan khas ini banyak dijumpai di warung kaki lima yang ada di sekitaran pasar-pasar Lamongan. Tahu campur ini juga begitu membumi dan menjadi salah satu kuliner yang dibanggakan oleh masyarakat Lamongan.Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan, Siti Rubikah membenarkan bahwa tahu campur merupakan salah satu kuliner khas Lamongan yang masih eksis hingga kini. Meski banyak bermunculan olahan makanan baru, namun tahu campur masih sangat melekat di hati para pecintanya.“Tahu campur adalah makanan khas Lamongan yang memiliki citarasa yang gurih dan segar. Sangat mudah ditemukan di sekitaran Kota Lamongan, tersedia di warung-warung kaki lima, baik siang hari maupun malam hari,” ujar RubikahRubikah menjelaskan, tahu campur ini berisi bahan-bahan seperti sop daging sapi kenyal, tahu goreng, perkedel singkong, taoge, selada air, mie kuning dan kerupuk udang. Selain itu, tahu campur Lamongan ini juga kerap disajikan dengan kerupuk kanji.“Semua bahan-bahan itu lalu dicampur ke bumbu petis, bawang goreng dan sambal. Rasa tahu campur ini semakin sedap karena bumbu petisnya berpadu dengan kuah kaldu sapi yang enak. Itulah mengapa tahu campur Lamongan sangat digemari masyarakat lokal maupun luar daerah,” terangnya.Selain memiliki cita rasa yang menggoda, harga tahu campur Lamongan ini pun sangat terjangkau. Bagi pecinta kuliner yang ingin mencicipinya, tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, karena dijamin tak akan menguras isi kantong.“Harga tahu campur Lamongan ini berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per porsinya. Bisa didapatkan di sekitaran kawasan Lamongan. Mudah ditemui lokasinya,” imbuhnya.Lebih lanjut, Rubikah menerangkan, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memperkuat branding kuliner khas Lamongan. Salah satunya dengan cara mematenkan makanan tradisional yang dimilikinya ke Kemenkumham RI.“Sebelumnya Lamongan telah mematenkan makanan tradisional khas Lamongan seperti soto Lamongan dan sego boranan. Kegiatan ini untuk memperkuat branding kuliner tradisional khas Lamongan. Semoga tahu campur Lamongan dan wingko Babat juga bisa segera keluar hak patennya,” tandasnllya.Sementara itu, salah satu pemburu kuliner bernama Moh. Bashoir mengaku bahwa tahu campur Lamongan adalah salah satu makanan favoritnya. Baginya, menyantap tahu campur akan semakin sedap apabila ditambahkan lontong dan kerupuk udang.“Suka sekali dengan tahu campur Lamongan. Apalagi jika petis udangnya dan kuah rempahnya kerasa banget, dagingnya empuk dan perkedel singkongnya juga mantap. Saat musim hujan seperti ini sangat cocok makan tahu campur,” kata pemuda asal Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan tersebut.Sumber : beritajatim.com

Selengkapnya
3 Makanan Khas Paciran Lamongan, Nomor 2 Hidangan Favorit Para Wali

Makanan khas Paciran, menu yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Kabupaten Lamongan. Kecamatan Paciran tak hanya menyimpan destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi namun juga kuliner yang wajib dicicipi.Makanan khas Paciran menjadi salah kuliner yang tak boleh dilewatkan bagi wisatawan yang datang ke Wisata Bahari Lamongan (WBL) maupun berziarah ke Wisata Religi seperti di Makam Sunan Drajat, Sunan Sendangduwur dan Maulana Ishaq. Kuliner daerah Paciran mungkin tak bisa ditemui di tempat lain.Beritajatim.com merangkum 3 makanan khas Paciran yang perlu anda cicipi saat berkunjung ke Lamongan. Dijamin, para penikmat kuliner akan ketagihan dan merasakan kenikmatan setelah mencoba ketiga makanan berikut ini :1. Makanan Khas Paciran Lamongan : Rujak PaciranKepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan, Siti Rubikah menyampaikan bahwa Rujak Paciran ini berbeda dengan rujak-rujak lain pada umumnya. Menurutnya, rujak ini memiliki racikan yang begitu khas.“Jika rujak lain ada rasa manis dan pedas saja, tapi Rujak Paciran memiliki rasa dan racikan yang khas, yakni ada rasa asin yang berasal dari petis ikan,” ujar Rubikah, Rabu (11/1/2023).Rubikah menyebut, petis ikan itu diproduksi oleh penduduk lokal yang juga mayoritas bermatapencaharian sebagai nelayan. “Petis itu berasal dari sisa air rebusan ikan yang direbus lagi dan diaduk sampai mengental,” katanya.Oleh karena rasa dan racikannya yang khas, tutur Rubikah, Rujak Paciran sangat legendaris dan digemari oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, baik masyarakat lokal maupun mereka yang datang dari luar daerah.Salah satunya seperti rujak “Mak Tas” yang berlokasi di Jalan Raya Paciran, Kecamatan Paciran, Lamongan. Selain menjual rujak, di warung rujak Mak Tas ini juga menyediakan bumbu atau sambal rujak.“Rujak di warung Mak Tas Paciran ini dijual dengan harga Rp5 ribu per porsinya. Sedangkan untuk harga sambal atau bumbunya dijual dengan harga Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per wadah. Tingkat pedasnya pun disesuaikan dengan selera, mulai dari level 0 sampai 5,” terangnya.2. Makanan Khas Paciran Lamongan : JumbrekMakanan khas Paciran lainnya yang tak kalah legendaris adalah Jumbrek. Jumbrek ini telah ada sejak abad antara 15 dan 16 Masehi, serta menjadi suguhan yang dihidangkan kepada para tamu saat berkunjung ke rumah wali atau sunan.“Jumbrek telah ada sejak abad ke 15-16 Masehi. Sejak dulu, Pulau Jawa bagian pesisir utara kerap jadi salah satu sasaran dakwah para wali. Jumbrek menjadi hidangan favorit kala itu,” kata Rubikah.Selain menjadi hidangan para wali, Rubikah menerangkan, Jumbrek juga menjadi salah satu makanan tradisional yang selalu ada dalam acara tradisi sedekah bumi yang digelar di kawasan setempat.Lebih lanjut Rubikah mengungkapkan, Jumbrek terbuat dari bahan-bahan seperti tepung beras, santan kelapa dan gula merah siwalan yang sangat khas. Ia menegaskan, Jumbrek sangat cocok dijadikan sebagai oleh-oleh saat berkunjung ke Paciran Lamongan.Bagi para pengunjung yang ingin menikmati Jumbrek, bisa langsung membelinya di warung-warung yang berada di sepanjang jalan raya Paciran. Jumbrek dijual dengan harga Rp20 ribu-Rp30 ribu per ikatnya.“Jika musim nangka tiba, pembuatan Jumbrek biasanya juga dicampur dengan potongan nangka untuk menambah cita rasa yang beragam. Kemudian dibungkus dengan daun lontar yang dibentuk kerucut lalu dikukus,” imbuhnya.3. Makanan Khas Paciran Lamongan : Keripik Ikan SundukMakanan khas Paciran berikutnya adalah Keripik Ikan Sunduk, yang juga sangat cocok dijadikan bingkisan buah tangan untuk keluarga atau sahabat di rumah. Keripik ini berbahan dasar seafood ikan sunduk, yang akan sangat disayangkan jika anda melewatkannya.“Keripik Ikan Sunduk ini menjadi salah satu camilan yang paling diburu oleh pengunjung saat ke Paciran Lamongan. Keripik ini menjadi favorit karena memiliki daya tahan yang lebih lama dan harganya pun cukup terjangkau,” papar Rubikah.Menurut Rubikah, ikan sunduk sangat mudah ditemui di kawasan perairan Paciran Lamongan. Ikan sunduk memiliki bentuk mirip dengan ikan tenggiri atau kakap, yang juga menjadi salah satu ikan hasil tangkapan dari para nelayan setempat.Bagi Anda yang penasaran untuk mencicipi Keripik Ikan Sunduk ini bisa datang ke pasar tradisional atau toko oleh-oleh di Paciran. Produknya bermacam-macam dan dikemas dengan ukuran kecil, sedang dan besar. Ada juga yang dijual kiloan.“Harga Keripik Ikan Sunduk ini menyesuaikan jenis dan ukurannya. Untuk ukuran 150 gram biasanya dijual dengan harga Rp20 ribu. Keripik ini sangat rekomended dijadikan sebagai oleh-oleh buat kerabat dekat maupun teman-teman di rumah,” tutupnya.Sumber : beritajatim.com

Selengkapnya
3 Minuman Khas Lamongan, Dijamin Ketagihan

Bagi sebagian orang, kuliner kerap menjadi salah satu alasan untuk berkunjung ke daerah tertentu. Bahkan, banyak orang yang rela datang jauh-jauh ke luar kota hanya untuk mencicipi makanan atau minuman favoritnya.Nah, kalau Anda berkunjung ke Kabupaten Lamongan, maka anda akan disuguhkan beragam kuliner menarik dan bisa membuat lidah Anda bergoyang, tak terkecuali minuman khas Lamongan yang dijamin bikin anda ketagihan.Berikut adalah tiga minuman khas Lamongan yang berhasil dirangkum oleh beritajatim.com. Ketiga jenis minuman yang segar ini juga mungkin saja sangat jarang dijumpai di daerah lainnya. Selain itu, penikmatnya juga dijamin ketagihan, apakah anda berani mencobanya?1. Minuman Khas Lamongan: LegenLegen adalah minuman tradisional yang banyak ditemukan di wilayah Pantura Lamongan, utamanya di Kecamatan Paciran. Legen merupakan minuman yang terbuat dari bunga pohon siwalan jenis betina. Bunga tersebut berbentuk sulur.Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Siti Rubikah, sulur bunga pohon siwalan atau pohon lontar itu dipotong sedikit demi sedikit untuk disadap getahnya. Getah ini lalu ditampung pada sebuah tabung yang bernama bumbung, terbuat dari potongan bambu satu ruas.“Nama ‘legen’ berasal dari kata dasar ‘legi’ (Bahasa Jawa), yang berarti manis. Sesuai dengan rasa legen itu sendiri,” ujar Rubikah, Minggu (8/1/2023).Mengenai waktu penyadapannya, Rubikah menjelaskan, biasanya berlangsung selama semalam, yang dimulai pada sore hari.Bumbung sebagai wadah penyadapannya itu ditaruh tepat pada bawah bunga pohon siwalan, yang diletakkan oleh petani dengan cara memanjat.“Satu manggar bunga biasanya menghasilkan 3 sampai 6 tabung legen. Minuman tradisional ini dijual dengan harga Rp5.000 per gelasnya. Banyak ditemukan di warung-warung yang berada di sepanjang jalan raya Paciran,” katanya.2. Minuman Khas Lamongan: Es Dawet SiwalanSalah satu minuman khas Lamongan yang sangat populer dan begitu dikenal masyarakat adalah es dawet siwalan. Es ini berisikan buah dari pohon siwalan yang dipotong-potong dalam bentuk kecil.“Es dawet siwalan ini juga minuman khas Lamongan yang banyak diburu oleh masyarakat, karena termasuk jarang ditemui di tempat lain. Di Lamongan, es dawet siwalan ini banyak ditemukan di kawasan Pantura Lamongan,” tutur Rubikah.Kemudian untuk pembuatannya, Rubikah menjelaskan, es dawet ini menggunakan santan dan sirup gula merah. Rasa es dawet siwalan ini sangat khas, yakni manis, legit, gurih dan segar.“Es dawet ini tersedia di warung-warung pinggir jalan, khususnya di Kecamatan Paciran. Warungnya merupakan bangunan terbuka yang terbuat dari kayu. Es dawet siwalan dijual dengan harga Rp5.000 per gelasnya,” sebutnya.3. Minuman khas Lamongan: Es BatilMungkin bagi pembaca, nama es batil ini begitu unik. Disebut es batil karena memang berisikan batil, makanan yang mirip dengan roti dan terbuat dari tepung beras dan ragi. Es ini begitu laris dan ramai diburu oleh para penikmatnya.“Es batil ini sangat enak dan segar. Batil ini skilas mirip roti, terbuat dari tepung beras dan ragi. Batil sebetulnya juga enak jika dimakan secara langsung. Tapi di sini, batil diiris-iris lalu dicampur dengan es dan sirup gula. Es ini juga bisa disebut dengan dawet batil,” papar Rubikah.Bagi para pecinta kuliner yang penasaran dan tak sabar untuk mencicipi es dawet batil ini, bisa langsung datang ke warung Ibu Bayanah, yang berlokasi di Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp6 ribu per porsinya.Lebih lanjut, selain berisi batil, es ini juga berisikan buah siwalan yang dipotong-potong kecil mirip dadu. Terdapat juga kacang hijau, dawet hijau, serta agar-agar yang diparut, lalu dicampur santan dan es batu.“Warung Bu Bayanah yang menjual es batil ini selalu ramai diserbu pengunjung. Berdiri sejak tahun 1990. Es seperti ini sangat jarang ditemukan di tempat lain. Rasanya begitu segar dan dijamin penikmatnya bakal pengen beli lagi,” tandasnya.Sumber : beritajatim.com

Selengkapnya