DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN

Artikel Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan

Legen

Legen merupakan salah satu Minuman Khas Lamongan, khususnya di wilayah Pantai Utara. Minuman tradisional ini terbuat dari bunga pohon siwalan jenis betina, yang berbentuk sulur.Sulur bunga pohon siwalan dipotong sedikit demi sedikit untuk disadap getahnya. Getah inilah yang ditampung pada sebuah tabung dari potongan pohon bambu yang dikenal dengan nama bumbung.Nama ‘legen’ berasal dari Bahasa Jawa, yakni kata dasar ‘legi’ yang berarti manis. Sesuai dengan rasa legen itu sendiri.Waktu penyadapan bunga pohon siwalan, biasanya berlangsung selama satu malam, yang dimulai pada sore hari. Bumbung sebagai wadah, ditaruh tepat di bawah bunga pohon siwalan yang telah disadap. Umumnya, petani siwalan memasang dan mengambil bumbung ini dengan cara dipanjat dengan alat sederhana.Oh ya Sob, Satu manggar bunga pohon siwalan biasanya menghasilkan 3 sampai 6 bumbung legen. Sementara penjualan legen sendiri rata-rata dinilai dengan harga Rp5.000 per gelas.Jadi siapa nih sobat Disparbud yg udah pernah ngrasain minum legen?? angkat tangan dong!!! pengen tahu testimoni rasanya di kolom komen dong yukmin😁

Selengkapnya
Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK)

Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) merupakan seperangkat komprehensif untuk mengukur capaian kinerja penbangunan kebudayaan yang terdiri dari 7 dimensi, yaitu:1. Dimensi ekonomi budaya2. Dimensi pendidikan3. Dimensi ketahanan sosial4. Dimensi warisan budaya5. Dimensi ekspresi budaya6. Dimensi budaya literasi7. Dimensi genderSobat Disparbud, inilah nilai IPK Kabupaten Lamongan Tahun 2022, yakni 59,98. Nilai ini merupakan salah satu capaian kinerja kami yang melampaui target dari yang telah ditetapkan.Untuk diketahui Target IPK Tahun 2022 hanya sebesar 54,7 atau tercapai 102 %.

Selengkapnya
5 Tempat Wisata Favorit Pengunjung Paling Diminati di Lamongan

Bangkit dari pandemi, sejumlah lokasi wisata di Lamongan mulai bergeliat. Angka kunjungan wisata di Lamongan tercatat mengalami kenaikan signifikan.Meski banyak tumbuh lokasi-lokasi wisata baru di Lamongan, sejumlah lokasi wisata tampaknya jadi favorit pengunjung. Tidak itu saja, beberapa lokasi favorit pengunjung tersebut di antaranya adalah lokasi wisata religi yang memang banyak ditemukan di Lamongan."Kawasan wisata yang ada di Pantura Lamongan, rata-rata yang paling banyak dikunjungi wisatawan," kata Kepala Disparbud Lamongan Siti Rubikah, Sabtu (28/1/2023).1. Kompleks Makam Sunan Drajat PaciranWisata Religi nampaknya masih menjadi favorit pengunjung wisata di Lamongan selama tahun 2022. Hal ini nampak dari angka kunjungan di sejumlah lokasi wisata religi yang berada di Desa Drajat, Kecamatan Paciran ini. Makam Sunan Drajat masih menjadi tempat favorit yang paling banyak dikunjungi pada tahun 2022, dengan jumlah wisatawan nusantara sebanyak 1.853.116 orang.Sunan Drajat dikenal sebagai seorang wali yang sangat memperhatikan kesejahteraan kaum fakir miskin. Sunan Drajat juga dikenal sebagai pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Di kompleks makam Sunan Drajat ini, kita juga bisa melihat koleksi peninggalan masa lampau dari Sunan Drajat di Museum Sunan Drajat yang lokasinya masih dalam kompleks makam.Museum Sunan Drajat adalah Museum Khusus yang menyimpan benda peninggalan Sunan Drajat yang digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam, serta benda bersejarah lainnya. Museum ini terletak diatas lahan seluas 4 hektar. "Museum Sunan Drajat difungsikan pada 30 Maret 1992 dan dikelola oleh Pemkab Lamongan," terangnya.2. Wisata Religi Makam Maulana IshaqUrutan kedua lokasi favorit pengunjung wisata di Lamongan masih seputar wisata religi, yaitu Wisata Religi Makam Maulana Ishaq yang juga berada di Kecamatan Paciran, dengan jumlah 1.367.271 wisatawan nusantara.Makam yang satu ini lokasinya berdekatan dengan laut dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Tidak hanya itu saja, di samping makam tersebut juga terdapat sebuah masjid 2 lantai, yaitu Masjid Al Abror yang dibangun di atas lahan 5 Hektar. "Makam Maulana Ishaq ini berlokasi di Desa Kemantren, Kecamatan Paciran," ujar Rubikah.3. Wisata Bahari Lamongan (WBL)Wisata Bahari Lamongan merupakan wisata yang terpopuler di Lamongan. Letaknya adalah di Jl. Raya Paciran, Desa/Kecamatan Paciran. Wisata Bahari Lamongan yang diresmikan pada 14 November 2004 oleh H. Masfuk, Bupati Lamongan saat itu, adalah lokasi wisata selanjutnya di Lamongan yang menjadi favorit kunjungan ketika berada di Lamongan."Kawasan wisata yang ada di Pantura Lamongan rata-rata yang paling banyak dikunjungi," jelas Rubikah.Wisatawan sangat direkomendasikan mengunjungi WBL. Sarana hiburan yang cocok bagi pasangan maupun keluarga dengan berbagai fasilitas, wahana, dan pemandangan pantai yang ditawarkan menambah nilai plus wisata ini. "WBL selalu mengupdate wahana, fasilitas, dan system yang ada guna memanjakan dan mempermuda wisatawan," paparnya.4. Maharani Zoo dan Goa (Mazoola)Masih berada satu kompleks dengan WBL, Maharani Zoo dan Goa (Mazoola) juga berada di Desa/Kecamatan Paciran. Selain bisa menikmati indahnya goa stalakmit, di Mazoola pengunjung juga bisa menikmati beragam koleksi satwa yang ada di Mazoola ini.Suasana pantai dan aneka satwa serta wahananya yang ada di 2 lokasi yang berhadapan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal Lamongan maupun luar kota. Selama libur Nataru inipun, WBL dan Mazoola juga menyajikan berbagai event khusus untuk menghibur pengunjung."WBL dan Mazoola ini juga menjadi lokasi favorit pengunjung," aku Rubikah.5. Wisata Religi Masjid NamiraMasjid Namira yang berada di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung ternyata juga masih menjadi lokasi favorit pengunjung. Desain masjidMasjid yang beroperasi sejak awal juni 2013 ini awalnya mampu menampung kurang lebih 500 jeamaah. Pada awal Oktober 2016, masjid telah diperbarui dengan menambah bangunan seluas 2,7 hektare sehingga total luas bangunannya menjadi 2.750 meter persegi. Kapasitas jemaah pun bisa menampung hingga 5 kali lipat dari awalnya.Bangunan Masjid Namira tidak terlalu berbeda dengan masjid-masjid besar yang ada di Indonesia. Keunikan masjid ini adalah keberadaan kiswah ka'bah di tempat imam. Masjid Namira selalu ramai pengunjung danLalu disusul urutan ketiga yakni Wisata Bahari Lamongan (WBL) dengan jumlah 452.390 wisatawan nusantara dan 16 mancanegara."Kawasan wisata yang ada di Pantura Lamongan rata-rata yang paling banyak dikunjungi. Selain itu juga ada wisata Maharani Zoo dan Goa dengan 329.389 wisatawan dan Museum Sunan Drajat dengan 204.469 wisatawan. Wisata Religi Masjid Namira 479.791 wisatawan," tambahnya.Selain tempat wisata yang telah disebutkan itu, terang Rubikah, terdapat wisata lainnya di Lamongan yang mampu menarik pengunjung, baik dari wisatawan nusantara maupun mancanegara.Di antaranya Makam Sendangduwur, Waduk Gondang, Pemandian Air Hangat Brumbun. Kemudian Wego, Pantai Kutang, Makam Nyai Andongsari, Agrowisata Besur, Wisata Trinil, G-Park, Istana Gunung Mas, Kolam Renang Oro-Oro Ombo Mantup, Wisata Edukasi Kampung Inspirasi Tlogoanyar, Makam Joko Tingkir, Bumi Perkemahan Moronyamplung dan Monumen Van Der Wijck."Kami akan terus menggenjot agar wisatawan semakin banyak yang berdatangan ke Lamongan melalui sejumlah event. Dengan begitu nantinya sektor pariwisata akan mampu menggerakkan roda perekonomian daerah," pungkasnya.Sumber : detik.com

Selengkapnya
Mengenal Syekh Hisamuddin alias Sunan Deket, Aulia Penyebar Islam di Lamongan

Lamongan dikenal memiliki banyak makam aulia yang hingga kini masih banyak dikunjungi oleh peziarah. Salah satunya adalah makam Syekh Hisamudin di Desa Deket Wetan, Kecamatan Deket.Makam Syekh Hisamuddin berada di sekitar pemukiman warga dan berbatasan dengan rel kereta api di bagian utaranya atau dari pertigaan Deket ke arah timur kurang lebih 500 meter yang terletak di sisi sebelah selatan jalan poros nasional Lamongan-Gresik. Syekh Hisamuddin merupakan putera Sunan Ampel Surabaya dari istri kedua bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning."Beliau juga merupakan ipar Sunan Giri atas pernikahan dengan saudara tua Raden Hisamuddin yang bernama Dewi Murtasiyah," kata Kadisparbud Lamongan Siti Rubikah, Kamis (26/1/2023).Syekh Hisamuddin melakukan dakwah agama Islam di seputaran Deket, Lamongan hingga wafat dan dimakamkan di Deket Wetan. Syekh Hisamuddin juga dikenal dengan sebutan Sunan Deket atau Sunan Lamongan."Makam Syekh Hisamuddin ini sendiri merupakan salah satu bukti dari jejak dari peradaban Islam yang ada di Lamongan," ujarnya.Untuk masuk area makam ini, pengunjung tidak dikenakan biaya, namun bagi pengunjung yang ingin beramal bisa langsung memasukkan infaq di kotak yang sudah disediakan. Di tempat ini anda dijamin akan mendapat ketenangan.Pasalnya, lokasi makam yang rindang dengan pepohonan selain kian menambah asri dan teduh ketika berada di kompleks makam ini, juga semakin membuat kita betah untuk berlama-lama di lokasi wisata religi yang satu ini. Tidak hanya itu, batu-batu dan pohon berukuran besar peninggalan dari masa lalu juga banyak ditemukan di kompleks makam ini."Tempatnya teduh, sejuk, dan rimbun, kebersihannya juga terjaga dan cocok juga sebagai lokasi wisata religi keluarga sambil mengenalkan sejarah Islam ke anak-anak," jelas Andri, salah seorang peziarah.Karena diyakini sebagai ulama dan memiliki karomah, makam Syekh Hisamuddin dianggap keramat sehingga banyak yang datang dengan tujuan untuk ngalap berkah. Kondisi makam juga masih sangat baik dan terawat, meski fasilitas yang ada masih minim termasuk juga minim pedagang makanan. Keotentikan tempat ini juga masih terjaga, jalan setapak dan bangunan yang ada di sekitar makam pun sangat orisinil."Tiga tahun lalu ramai pengunjung, tapi karena keterbatasan lahan parkir dan pandemi, angka kunjungan jumlahnya menurun," aku sang juru kunci pesarean, Choiri.Selain dikenal sebagai Sunan Deket, Syekh Hisamuddin juga dikenal sebagai penasihat Bupati pertama Lamongan, Tumenggung Surajaya atau Rangga Hadi atau Mbah Lamong. Syekh Hisyamuddin juga dikenal dengan sebutan Mbah Sinuwun"Syekh Hisamuddin ini dulunya adalah penasihat Mbah Lamong, bupati pertama Lamongan," kata salah seorang warga Deket, Huda, Rabu (4/1/2023).Perihal dari mana sebutan Mbah Sinuwun itu, Huda mengatakan julukan tersebut konon juga berasal dari sang Bupati pertama Lamongan tersebut. Sinuwun, menurut warga, adalah panggilan dari Mbah Lamong kepada Syekh Hisamuddin. Lambat laun, julukan inipun diikuti oleh semua orang dan berlanjut hingga saat ini."Syekh Hisamuddin disebut sebagai Mbah Sinuwun karena dulu saat menjadi penasihat, Mbah Lamong yang adalah bupati pertama Lamongan memanggil Syekh Hisamuddin dengan panggilan sinuwun," ujarnya.Kebiasaan warga sekitar dengan makam, menurut Huda, juga terlihat hingga saat ini terutama setiap kamis malam Jumat. Di hari itu, warga yang punya hajat datang ke lokasi makam kirim doa dan membawa tumpeng ke makam untuk dimakan bersama usai berkirim doa.Selain pengunjung atau peziarah lokal, makam Syeh Hisamuddin juga kerap menjadi jujugan ngalap berkah peziarah dari luar Lamongan."Keberadaan Sunan Deket ini juga berkaitan dengan penamaan sejumlah desa-desa yang ada di sekitarnya, terutama yang ada di wilayah tenggara Lamongan," imbuhnya.Lokasi di mana makam Mbah Sinuwun berada masih banyak ditemukan sebaran benda-benda cagar budaya. Tinggalan tersebut berupa batu bata kuno dan pecahan keramik.Pemerhati budaya dari Lamongan Supriyo mengungkapkan, lokasi makam Mbah Sinuwun memang bisa dibilang sangat luas dan tidak hanya terpusat pada makamnya saja. Di lokasi inipun, aku Priyo, banyak ditemukan sebaran benda-benda cagar budaya."Ada banyak temuan di lokasi makam Mbah Sinuwun ini," kata Supriyo, Kamis (26/1/2023).Temuan benda-benda purbakala tersebut, rinci pria yang juga Ketua Lesbumi Lamongan Lamongan ini, berupa pecahan batu bata kuno yang jumlahnya cukup banyak. Temuan batu bata kuno ini, menurut Priyo, sebarannya tidak hanya di sekitar makam tapi hingga ke sisi selatan makam."Kompleks makam Mbah Sinuwun ini kan sebenarnya memang luas dan temuan batu bata ini tidak hanya di sekitar makam tapi ada juga di sebelah selatan," ujarnya.Selain batu bata kuno, terang Priyo, temuan lain yang ada di kompleks makam Sunan Deket atau Mbah Sinuwun ini adalah pecahan keramik kuno. Seperti halnya batu bata, tambah Priyo, sebaran pecahan keramik kuno juga banyak ditemukan di pesarean yang berada di Desa Deket Wetan ini. Pecahan keramik asing di makam Mbah Hisyamudin dan sebaran reruntuhan batubata kunonya juga padat dan luas."Pecahan keramik yang ada ini di makam ini juga banyak, yang dimungkinkan berasal dari masa Majapahit," ungkap Priyo.Hanya saja, Priyo menyebut, belum ada kesimpulan apakah benar batu bata kuno dan pecahan keramik yang ada di kompleks makam ini benar-benar berasal masa Majapahit. Pasalnya, tandas Priyo, hingga saat ini belum ada penelitian lebih jauh terkait keberadaan makam yang jaraknya dari jalan poros nasional Lamongan-Babat kurang dari 1 km tersebut."Belum ada penelitian lebih lanjut terkait temuan-temuan tersebut," jelasnya.Dengan temuan-temuan ini, Priyo berharap agar masyarakat Lamongan lebih bisa menjaga dan merawat benda-benda sejarah tersebut."Agar jejak-jejak sejarah ini tidak hilang dan kita bisa ikut menikmati sejarah tersebut," pungkasnya.Sumber : detik.com

Selengkapnya