Category Archives: Penelitian

Penelitian Potensi Hasil Peternakan Sapi terhadap Pemenuhan Daging di Kabupaten Lamongan.

  • Kesimpulan

  1. Terjadi Penurunan populasi sapi potong sebesar 1.6% selama kurun waktu 2011-2015. Populasi akhir sapi potong adalah 101.790 ekor pada tahun 2015
  2. Konsumsi rata-rata daging sapi masyarakat Lamongan adalah 2.64 kg/kapita/tahun lebih tinggi dari konsumsi rata-rata nasional yaitu 2.08 kg/kapita/tahun terjadi surplus daging sapi potong pada tahun 2011-2015
  • Rekomendasi

 

  1. Diperlukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor faktor yang mempengaruhi penurunan populasi sapi potong di Kabupaten Lamongan agar tidak terjadi defisit daging seperti pada proyeksi tahun 2020 – 2026
  2. Perlu dibuat PERDA larangan penjualan ternak di luar pasar hewan agar pencatatan data rapi sehingga terkontrol.

Penelitian Dampak Pengelolaan Bahan Galian C terhadap Peningkatan Pendapatan Daerah

  • Kesimpulan
  1. Penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan dinilai tidak efektif. Tahun 2005 sampai dengan 2015 tingkat efektivitas pada tahun itu dengan kriteria “tidak efektif” dan bahkan tidak memenuhi setengah dari target yang ditetapkan. Sedangkan pada tahun 2015 dapat dikatakan efektif. Penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Kabupaten Lamongan dalam kurun waktu lima tahun dari tahun 2009-2013 tidak terus mengalami peningkatan melainkan berubah-ubah.
  2. Kontribusi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah setiap tahun masing-masing dinilai sangat kecil. Kontribusi terbesar terjadi pada tahun 2013 sedangkan terendah terjadi pada tahun sebelumnya. Kontribusi Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah selama lima tahun terakhir dinilai tidak maksimal dan masuk dalam kriteria kontribusi “Sangat kurang”. Hasil analisis diperoleh tingkat kontribusi rata-rata tidak mencapai satu persen dari prosentase.
  3. Berdasarkan perhitungan analisis data historis, proyeksi penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Kabupaten Lamongan pada tahun 2014 dan 2015 tidak jauh berbeda dengan hasil pada tahun sebelumnya.
  • Rekomendasi

  1. Sistem pemungutan yang harus lebih diperhatikan dan diperbaiki agar penerimaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan lebih efektif.
  2. Lebih ditingkatkan lagi fungsi kontrol pemerintah terhadap instansi terkait demi terciptanya kinerja yang lebih baik sehingga tahun-tahun selanjutnya dapat memberikan hasil yang memuaskan.
  3. Sebaiknya dilaksanakan penyuluhan yang lebih intensif dan persuasif kepada Wajib Pajak khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dan memberikan sanksi tegas kepada para wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakannya sebagaimana mestinya.

Penelitian Potensi Restribusi Pasar terhadap Peningkatan PAD Kabupaten Lamongan

  • Kesimpulan
  1. Potensi retribusi pasar terhadap peningkatan PAD Kabupaten Lamongan, telah menunjukkan bahwa potensi penerimaan retribusi pasar dari setiap unit pasar menunjukkan kriteria yang berpotensi, tetapi dari hasil perbandingan pada tabel dan grafik potensi retribusi pasar dengan target Retribusi Pasar tiap tahun yang di dapat sangat berdeda jauh yaitu selalu dibawah potensi, hal inilah yang perlu menjadi perhatian, karena ada faktor lain yang mempengaruhi seperti berdirinya mini market dan masih ada pedagang yang belum terdata oleh pihak pasar serta dalam pelaksanaan pungutan masih kurang optimal, dan dalam pengenaan tarif retribusi pasar harus disesuaikan dengan tingkat layanan yang diberikan kepada para wajib retribusi seperti tarif untuk kios, los, dan pelataran itu harus ditinjau ulang bukan berdasarkan luas saja tetapi berdasarkan tingkat keramaian dan potensi transaksi pembelian barang. Hal ini juga yang membuat kebocoran-kebocoran potensi yang ada. Sehingga penerimaan yang seharusnya bisa lebih tinggi dari potensi menjadi berkurang dikarenakan pelaksanaan pemunggutan retribusi pasar dirasa masih kurang maksimal. Dan dapat disimpulkan bahwa potensi penerimaan retribusi pasar masih kurang berpotensi.
  2. Rata-rata efektivitas pemungutan retribusi pasar di Kabupaten Lamongan adalah sebesar 105,30%, hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata pemungutan retribusi pasar sudah berjalan secara efektif. Dan berdasarkan hasil perhitungan dari 10 unit pasar juga menunjukkan bahwa penerimaan retribusi pasar memiliki kriteria efektif dalam meningkatkan PAD Kabupaten Lamongan. Tetapi dilihat pada tabel 5.12 telah menunjukkan bahwa ada selesih antara penerimaan retribusi pasar (55% dari laba bersih setelah pajak) dengan realisasi retribusi pasar ke daerah, hal ini perlu di perhatikan bahwa masih ada potensi naik dalam penetapan target untuk PAD dari setiap perusahaan daerah khususnya PD.Pasar Kab.Lamongan. Dalam penetapan target harus realistis berdasarkan perhitungan potensi yang sebenarnya.
  3. Kontribusi penerimaan retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Lamongan selama tahun anggaran 2011- 2015 adalah rata-rata sebesar 1,85%, sedangkan kontribusi retribusi pasar terhadap retribusi daerah adalah sebesar 2,03%. Kontribusi retribusi pasar masih kurang berkontribusi sehingga kurang menunjang pendapatan asli daerah (PAD) berdasarkan data global. Sedangkan dari hasil perhitungan 10 unit pasar menunjukkan bahwa hanya 3 unit pasar yang mengalami penurunan dan 7 mengalami kenaikan sehingga retribusi pasar berasal dari 10 unit pasar dan sebagai salah satu komponen retribusi daerah dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 sebagian sudah mampu menyumbang atau memberikan kontribusi terhadap PAD dan sebagian dengan kriteria kurang berkontribusi masih perlu penataan kembali supaya mampu memberikan kontribusi untuk peningkatan PAD.
  • Rekomendasi

Untuk  meningkatkan  penerimaan  retribusi  pasar  sesuai  dengan  potensi yang ada dapat dilakukan dengan cara:

  1. Menjaring para wajib retribusi baru yang belum dikenai pungutan retribusi sebelumnya dengan meningkatkan kegiatan pemeriksaan dan pengawasan dilapangan.
  2. Menerapkan sanksi hukum kepada wajib retribusi khususnya para pemilik kios, los atau pelataran yang tidak membayar retribusi yang telah ditetapkan;
  3. Memberikan penyuluhan atau sosialisasi secara intensif kepada wajib retribusi tentang hak dan kewajiban serta manfaat dari retribusi yang dibayarkan baik bagi wajib retribusi maupun bagi Pemerintah Kabupaten Lamongan.
  4. Meningkatkan efisiensi pemungutan yaitu dengan cara mengurangi biaya- biaya yang tidak perlu di mana persentase biaya pemungutan diusahakan lebih rendah atau lebih kecil dari persentase  peningkatan realisasi penerimaan sehingga dari tahun ke tahun pungutan retribusi pasar menunjukkan adanya peningkatan efisiensi.
  5. Pemerintah Kabupaten Lamongan agar lebih realistis dalam menentukan dan atau menetapkan target penerimaan  retribusi pasar dalam APBD berdasarkan perhitungan potensi yang sebenarnya. Pengenaan tarif retribusi pasar disesuaikan dengan tingkat layanan yang diberikan kepada para wajib retribusi seperti tarif untuk kios, los, dan pelataran harus ditinjau ulang bukan berdasarkan luas saja tapi berdasarkan tingkat keramaian dan potensi transaksi pembelian barang.

Kajian Transportasi Massal di Kecamatan Lamongan, Babat, Paciran, Brondong

  • Kesimpulan
  1. Kinerja pelayanan angkutan umum Di  dua jalur kecamatan  tengah dan utara kabupaten Lamongan berkaitan dengan perbedaan struktur kota adalah sebagai berikut:
  2. Wilayah pusat kota di kedua kota tersebut memiliki tingkat kepadatan yang relatif tinggi, namun laju pertumbuhan penduduk di pusat Kota Lamongan masih bertambah walaupun memiliki tingkat kepadatan yang jauh lebih tinggi,
  3. Trayek cabang kecamatan yang dilayani oleh armada jenis MPU cenderung tidak  berkembang, Hal ini menunjukkan bahwa permintaan angkutan umum di Kabupaten Lamongan  relative tidak  Trayek ranting dikedua kota tersebut tidak dapat disamakan, karena keduanya memiliki zona pelayanan yang berbeda.
  4. Permasalahan transportasi Kabupaten Lamongan dipengaruhi oleh struktur kota yang bersifat memusat sehingga pola pergerakan lalu lintas banyak menuju ke pusat kota yang berakibat membebani ruas-ruas jalan yang menuju ke pusat kota, evaluasi pelayanan angkutan umum dengan pengurangan atau penggantian moda angkutan umum jenis MPU dengan moda yang berkapasitas lebih besar sehingga dapat mengurangi beban lalulintas di pusat kota.
  5. Diperlukan kerjasama dengan kota-kota yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Lamongan mengingat semua trayek memiliki terminal awal dan tujuan yang berada di luar wilayah administrasinya, baik kerjasama dalam hal peningkatan kinerja pelayanan angkutan umum maupun perkembangan wilayah kota dengan menjadikan kawasan perbatasan menjadi kawasan pengembangan sehingga diharapkan mampu mengurangi pergerakan eksternal menuju Kabupaten Lamongan .
  6. Pendekatan konvensional yang selama ini dugunakan dengan mengakomodasikan setiap pertumbuhan kebutuhan transportasi dirasakan sangat efektif untuk selang waktu pendek saja. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan pergerakan yang sangat cepat, pendekatan  ini dirasakan tidak efektif lagi dan sangat sulit dilaksanakan dilihat dari kebutuhan dana yang sangat besar, oleh sebab itu, kebijakan pengembangan sistem transportasi perkotaan di daerah dengan menggunakan pendekatan konvensional  dapat dialihkan pada usaha pengelolaan atau manajemen pada sisi kebutuhan transportasiTulisan ini telah menjelaskan bagaimana sistem kebutuhan transportasi yang ada diwilayah Kabupaten Lamongan dengan menggunakan beberapa strategi diantaranya:
    1. Dampak pergeseran waktu ; proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama, tetapi waktu yang berbeda.
    2. Dampak pergeseran rute/lokasi proses pergeseran terjadi pada waktu yang sama, akan tetapi rute atau lokasi berbeda.
    3. Dampak pergeseran moda, proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama dan waktu yang sama, akan tetapi dengan moda transportasi yang berbeda.
    4. Dampak pergeseran lokasi tujuan ; proses pergerakan terjadi pada lokasi yang sama, waktu yang sama dan moda transportasi yang sama, tetapi dengan lokasi tujuan yang berbeda
    5. Tidak ada satupun kebijakan yang mampu menyelasaikan transportasi secara komprehensif dan tuntas. Pergerakan masyarakat yang selalu dinamis membutuhkan kecermatan untuk dapat menunjang keberhasilan manajemen transportasi yang madani

 

  • SARAN
  1. Melihat aktivitas masyarakat dengan tingkat pergerakan yang semakin tinggi, sejogyanya pemerintah daerah Kabupaten Lamongan mulai memperhatikan fasilitas angkutan massa
  2. Budaya masyarakat yang lebih memilih menggunakan motor roda dua untuk memenuhi kebutuhan pergerakan baik ke sekolah atau ketempat kerja, sebaiknya mulai memperhatikan kenyaman angkutan massa
  3. Adanya kemacetan yang tinggi pada jam – jam tertentu di jalur Lamongan – Babat, dapat menggunakan pergeseran rute lokasi dengan membuka akses lingkar utara.
  • REKOMENDASI
  1. Pembukaan trayek baru untuk memenuhi kebutuhan angkutan massa bagi anak sekolah dan arah yang mengalami pergerakan massa terbesar (Misalkan Lamongan – Paciran)
  2. Memperhatikan kenyamanan dan keamanan pada armada angkutan massa dengan melakukan peremajaan angkutan massa.