Telusuri Jejak Joko Tingkir Di Lamongan

Jika menyebut “Laskar Joko Tingkir” — julukan tim sepak bola Persela Lamongan — apa yang ada dibenak Anda? Ya, tentu Kota Lamongan. Cerita rakyat mengisahkan Joko Tingkir pernah singgah di salah satu desa di Kabupaten Lamongan tersebut, lebih tepatnya di Desa Pringgoboyo.

Sebenarnya banyak cerita yang berkembang tentang Joko Tingkir. Ada cerita yang menyatakan makam Joko Tingkir ada di Kompleks Pemakaman Butuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Ada juga cerita bahwa makam tersebut ada di Dusun Dukoh, Desa Pringgoboyo, Maduran, Lamongan, Jawa Timur. Mana kisah yang paling benar? Wallahu A’lam.

Pada akhir September 2018, saya berkesempatan berkunjung ke tempat yang dipercayai warga sekitar sebagai pemakaman Mbah Anggungboyo atau Joko Tingkir di Lamongan. Saya bertemu juru kunci makam bernama Muslik. Ia sering menghabiskan waktunya di gubuk kecil dekat makam tersebut.

Ia bercerita panjang bahwa dulu seorang tokoh besar RI pernah berkunjung ke makam tersebut. Tokoh itu di antar oleh Yai Midkhol, seorang kiai asli Lamongan dari Desa Pringgoboyo, pada tahun 1996.

“Yai Midkhol bahkan sempat mendatangkan sejarahwan dari luar negeri dan kerjasama dengan Pak Faried (Bupati Lamongan kala itu) untuk ngelacak kebenaran makam Joko Tingkir,” tuturnya.

Pada Februari 1999 Muslik berkesampatan langsung bertemu dengan tokoh besar tersebut di Cianjur setelah menghadiri Muktamar Serikat Islam. Ia sempat menanyakan keberadaan makam Joko Tingkir yang sebenarnya. Namun, tokoh tersebut enggan menjawab. Ia akhirnya meminta doa dan izin ke untuk membanggun masjid di sebelah makam.

Pada tahun 2006, desa tempat makam berada membuat pengurus baru untuk menjaga makam. Muslik tidak ikut andil dalam pengurus tersebut. Namun pada tahun 2008, warga desa menggangkat kembali Muslik untuk menjadikannya juru kunci makam tersebut.

Di sebelah makam tersebut terdapat pohon yang oleh warga sekitar disebut Dandu dan Pohon Asam yang begitu besar kurang lebih memiliki tinggi 50 meter dengan diameter kurang lebih 2 meter.

“Pohon Asam itu memiliki makna ‘a’ artinya tidak dan ‘sem’ artinya sempurna, jadi tidak ada orang yang sempurna. Begitu juga dengan Pohon Dandu yang memiliki makna ‘dan’ artinya kata sambung dan ‘du’ artinya duduk-duduk, jadi kita itu perlu duduk-duduk dan saling sharing untuk mencari ilmu”, imbuhnya.

Sumber : https://lamonganoke.wordpress.com/