Pengembangan kawasan wisata bahari adalah salah satu bentuk pengelolaan kawasan wisata yang berupaya dan bertujuan untuk memberikan manfaat terutama bagi perlindungan, pelestarian serta pemanfaatan potensi wisata dan jasa lingkungan sumber daya alam khususnya di wilayah pesisir pantai. Di lain pihak, masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung di sektor kepariwisataan melalui terbukanya lapangan usaha yang menciptakan kesempatan kerja baru serta mampu meningkatkan pendapatan baik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Kabupaten Lamongan merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur dengan kondisi geografis yang cukup potensial sehingga memungkinkan kegiatan ekonomi yang cukup beragam. Dari perkembangan wisatanya Lamongan menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) di Jawa Timur. Tetapi pasca pembangunan Wisata Bahari Lamongan (WBL), Goa Maharani dan Kebun Binatang Maharani (Mazoola), sektor pariwisata mampu muncul menjadi salah satu kekuatan baru ekonomi Kabupaten Lamongan. Kegiatan pariwisata membuka ruang bagi ekonomi lainnya dan membuka lapangan kerja. Efek yang dihasilkan dari kegiatan pariwisata tentu saja mendorong Pemerintah Daerah lebih beperan aktif memajukan sektor pariwisata. Pemerintah Daerah dengan mendorong kemajuan sektor pariwisata berarti membantu peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah. Pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah mengatur bahwa penyelenggaraan pemerintahan daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat,serta peningkatandaya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keberadaan suatu objek wisata tidak terlepas dari adanya eksternalitas yaitu efek yang timbul diluar kegiatan ekonomi, tidak terkecuali Wisata Bahari Lamongan.Keberadaan  Objek  Wisata  Bahari  Lamongan  telah memberikanbanyak  kontribusi  bagi perekonomian daerah. Eksternalitas yang timbul karena keberadaan Wisata Bahari Lamongan dapat mendorong  terciptanya kesempatan kerja serta peningkatan perekonomian masyarakat sekitar. Pembangunan sarana prasarana pariwisata pasti membutuhkan tenaga kerja, modal dana lahan untuk pembangunan. Kontribusi pariwisata seperti perluasan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan (devisa), dan pemerataan pembangunan antar-wilayah akan terealisasi  jika pemerintah, baik pusat maupun daerah serius dalam mengelola sektor pariwisata; apalagi jika pemerintah menempatkan sektor pariwisata sebagai sektor ekonomi andalan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Damanik, 2005). Mengacu pada UU Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan dan Peraturan Daerah Nomor 23 Tahun 2008 bahwa penyelenggaran dan pengelolaan kepariwisataan daerah menjadi tanggung jawab pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tugas ini kemudian diperinci lagi dalam visi dan misi organisi. Visi dan misi inilah nanti yang menjadi arah organisasi. Jika nanti pada kenyataan sektor pariwisata tidak mampu mendatangkan manfaat maka perlu untuk melihat sejauh mana tugas dan fungsi pemerintah terlah dijalankan.

Perkembangan pariwisata WBL di Lamongan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang berada disekitar  kawasan terutama penduduk lokal secara langsung dan tidak langsung. Penduduk yang tidak langsung adalah penduduk dari luar kota lamongan yang bekerja di sekitar WBL. Seperti yang kita ketahui  WBL menyerap banyak tenaga kerja masyarakat sekitar, banyak usaha skala kecil muncul setelah adanya WBL seperti adanya kios-kios kecil penjual cinderamata, warung, usaha rumah kos, ada juga pembangunan hotel yang juga menyerap tenaga kerja. Selain itu beberapa masyarakat yang memiliki lahan disekitar kawasan ada kecenderungan untuk menjual tanah yang dimiliki, karena melihat dari nilai ekonomis jauh lebih menguntunkan jika dibandingkan dengan usaha kegiatan non pariwisata. Dengan demikian tanpa disadari terjadi pergeseran secara sosial ekonomi dari kegiatan pariwisata tersebut.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat sekitar objek wisata itu merupakan konsekuensi dari dampak pembangunan atau pengembangan pariwisata. Secara konsepsual perubahan-perubahan yang terjadi itu merupakan akibat meningkatnya perekonomian masyarakat. Selain dampak pada masyarakat sekitar, WBL juga memberikan dampak kepada masyarakat diluar wilayah paciran, karena Dalam kurun waktu 5 tahun (2006-2010) pariwisata masuk menjadi salah satu sektor yang mengalami kenaikan investasi dan mampu meningkatkan kegiatan ekonomi yang berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga diperkirakan memberikan dampak kepada masyarakat luas di Lamongan seperti semakin membaiknya sarana prasarana dikota Lamongan.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka kawasan WBL  memerlukan adanya suatu studi untuk mengetahaui besarnya pengaruh aktivitas pariwisata yang terdapat di dalam kawasan yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat dengan adanya studi ini diharapkan pengaruh – pengaruh yang ditimbulkan yakni perubahan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat dapat diketahui, hal tersebut perlu dilakukan karena masyarakat merupakan unsur yang sangat penting untuk mendukung keberhasialn pengembangan suatu wilayah.

 

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana kontribusi pengembangan objek Wisata Bahari Lamongan (WBL) terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar dan Kabupaten Lamongan?
  2. Bagaimana pengambilan kebijakan pemeritah Kabupaten Lamongan kedepan sehubungan dengan pengelolaan pariwisata di Kabupaten Lamongan ?

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai kontribusi pengembangan objek Wisata Bahari Lamongan ( WBL )  terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar dan Kabupaten Lamongan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Perkembangan kunjungan wisata WBL dan Mazola dari tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami peningkatan, dari 863.340 naik 871.32. Menunjukkan kenaikan sebesar 7981 Orang atau sebesar 0.92 %. Walaupun dengan kenaikan sebesar 0,92 % akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan kontribusi terhadap PAD.
  2. Penyerapan tenaga kerja dan tingkat kesejahteraan pegawai / karyawan. Jumlah karyawan WBL secara keseluruhan sebanyak 297 orang karyawan, dimana hampir 100 % semua karyawannya bertempat tinggal di sekitar WBL dan Lamongan. dari total karyawan WBL tersebut ada 222 orang karyawan laki-laki dan 75 orang karyawan perempuan, baik yang berstatus tetap / bulanan, harian dan harian lepas (Kasual) adalah status karyawan yang dibayar berdasarkan jumlah hari kerjanya. Komitmen pihak manajemen WBL Warga Lamongan di prioritaskan. Bukan saja, mengutamakan warga lokal, namun 30 orang pemilik lahan untuk pembangunan WBL, anggota keluarga mereka menjadi karyawan.Sedang Upah atau gaji yang diterima oleh Karyawan rata-rata menyebutkan upah / gaji yang diterima diatas UMR, UMK Kabupaten Lamongan Tahun 2017 yaitu sebesar Rp. 1.702.772,-
  3. Kontribusi Pengelolaan WBL Terhadap PAD merupakan salah satu komponen retribusi daerah yang memberikan peranan atau kontribusi yang cukup berarti/besar terhadap retribusi daerah di Bidang Kepariwisataan. Kontribusi penerimaan retribusi pengelolaan WBL termasuk didalamnya kontribusi retribusi Stan dan retribusi Parkir, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, 2 ( dua ) tahun terakhir memberikan kontribusi terhadap PAD sebesar Rp. 13.750.000.000,- atau 94,03 dari PAD Bidang Pariwisata sebesar Rp. 14.622.948.000,-
  4. Dengan pengembangan obyek Wisata Bahari Lamongan telah memberikan Kontribusi positif Terhadap Kesejahteraan Masyarakat sekitar dan Kabupaten Lamongan baik bagi masyarakat sekitar, Pemerintah Daerah maupun masyarakat umum.