Balitbangda Wacanakan Lamongan Miliki Wisata Malam

Sebagai daerah yang sedang giat mempromosikan pariwisata, Lamongan dinilai kekurangan lokasi wisata, khususnya untuk malam hari. Pasalnya, dari semua obyek wisata yang dimiliki oleh Kota Soto tersebut, sebagian besar hanya beroprasi pada siang hari dan akan tutup pada pukul 16.00 – 17.00 WIB, seperti Wisata Bahari Lamongan, Maharani Zoo, ataupun sejumlah wisata lainnya.

Padahal, Lamongan sebagai destinasi wisata utama di wilayah pantura perlu memiliki banyak atraksi dan kegiatan wisata malam. Perlu diciptakan atraksi wisata baru pada malam hari karena semakin banyak kegiatan wisata pada malam hari justru makin baik, guna menggaet kunjungan wisatawan ke daerah ini.

“Kan tidak mungkin wisatawan diving dan snorkeling pada malam hari. Apa yang mau dilihat kalau malam hari? Untuk itu, kalangan pelaku parwisata diharapkan lebih berperan aktif dalam menciptakan terobosan baru, khususnya wisata pada malam hari di Kota Soto ini,” ungkap Hurip Tjahjono,  SH,  MH, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Lamongan, kamis, (23/03/2017).

Lanjutnya, kegiatan wisata malam di kota ini sangat sedikit bahkan tidak ada. Dengan demikian yang dibutuhkan wisatawan adalah suasana dan atraksi dengan kemasan baru, sehingga wisatawan yang datang ke Lamongan bisa mendapatkan pengalaman baru.

“Lamongan membutuhkan banyak kegiatan wisata malam hari, baik itu kuliner, pusat belanja, atraksi maupun hiburan malam lainnya, sehingga wisatawan merasa lebih nyaman berlama-lama tinggal di daerah ini. Sebab, komunitas wisatawan malam hari butuh spesialisasi atraksi yang menghibur mereka,” tambahnya.

Hurip juga mengilustrasikan, dengan keberadaan Batu Night Spectacular (BNS). BNS sendiri, merupakan nama yang tercetus sebagai konsep dasar untuk mewuiudkan Kota Batu sebagai kota tujuan wisata yang menarik dan eksotis. Hal tersebut didasarkan bahwa Batu memiliki keindahan pemandangan yang sangat spektakuler, apalagi jika dinikmati di malam hari.

“Apa yang ada di Kota Batu seperti BNS tersebut, bukan tidak mungkin berada di Kabupaten Lamongan. Atau paling tidak dapat mengeksploitasi wilayah utara lamongan dengan membuat Paciran Night Spectacular (PNS),”imbuh Hurip.

Selain nama tersebut mudah diingat, lanjut Hurip, keberadaan wilayah utara Lamongan saat ini sudah tidak asing lagi di kalangan publik. Seperti nama WBL, Maharani Zoo, ataupun Tanjung Kodok Beach and Resort (TKBR) yang sudah berkelas internasional. “Terlebih lagi, di wilayah utara lamongan tersebut juga terdapat wisata religi yang tidak semua Kabupaten/ Kota memiliki yakni wisata makam Sunan Drajat. Hal ini menjadi modal besar diciptakannya sebuah wisata malam hari di wilayah utara lamongan tersebut,”tutur Hurip.

Jika di Kota Batu ada BNS, di Kota Surabaya juga saat ini tengah bergeliat wisata keluarga yang beroprasi di malam hari seperti Surabaya Carnival, sedangkan di kabupaten tetangga yakni Bojonegoro saat ini juga tengah dimeriahkan dengan atraksi malam hari yang berpusat di Dufan Bojonegoro. “Bisa dibayangkan berapa rupiah yang dihasilkan dari warga Lamongan untuk sejumlah daerah tersebut. Secara tidak langsung, Lamongan merupakan penyumbang tetap bagi PAD daerah-daerah yang memiliki wisata malam hari. Tentunya, hal itu harus didukung dengan sarana dan prasrana  serta infrastruktur yang memadai oleh Pemerintah Daerah,”pungkasnya.

 

Sumber : http://suarapantura.co.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *