Enter your keyword

TRI TUNGGAL

Lamongan-Desa Tritunggal, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, layak menjadi sentra konveksi.  Ratusan warga di Dusun Beton selama belasan tahun menggeluti usaha konveksi sebagai sandaran ekonomi.

Disetiap rumah warga setiap harinya terlihat kesibukan aktifitas pekerja memproduksi baju dan celana. Dari mengukur kain, menyablon hingga menjahit.

“Setiap harinya ribuan pakaian diproduksi perajin konveksi di desa ini. Jangkauan pasarnya sudah menyeluruh se Indonesia,” kata Kepala Desa (Kades) Tritunggal, Yakoeb kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (9/5/2014).

Selain memproduksi pakaian jadi, orderan terbesar yang ditangani para pengusaha konveksi Desa Tri Tunggal adalah pesanan seragam baik untuk perkantoran, sekolah, parpol dan lainnya.  

Setiap pengusaha konveksi telah memiliki pelanggan tetap. Tidak hanya di Pulau Jawa, namun juga hampir semua provinsi di Indonesia. Selain itu mereka  juga memiliki tenaga marketing (pemasaran) untuk menjaring konsumen.

Saat ini, menurut Yakoeb, di Desa Tritunggal terdapat sekitar 142 pengusaha konveksi dari yang berskala besar hingga rumahan. Untuk pengusaha kelas besar mempekerjakan karyawan 25-50 orang. Pengusaha menengah mempekerjakan 10-15 orang dan pengusaha kelas rumahan memiliki karyawan 5-10 orang. Para pengusaha konveksi tersebut tergabung dalam Asosiasi Perindustrian Konveksi dan Sablon (APIK).

“Mereka yang tergabung dalam APIK tidak saja para pengusaha konveksi namun juga pengusaha sablon dan penjual bahan konveksi,” ujar Yakoeb, menerangkan.

Produksi konveksi Desa Tritunggal memang cukup murah. Dikarenakan semua kebutuhan kain, benang dan perkakas konveksi lainnya sudah tersedia di desa sehingga pengusaha konveksi tidak harus belanja ke Surabaya.

“Karena produksi yang dihasilkan cukup besar, konveksi desa Tritunggal disebut sebagai daerah teksil Indonesia timur,” tegas Yakoeb.

Dalam wadah APIK usaha konveksi Desa Tritunggal semakin berkembang. Setidaknya sejak setahun terakhir, APIK telah mendirikan show room di tepi utara jalan nasional Babat-Surabaya. Show room ini dibangun dengan dana Rp1,8 milyar.

“Setiap setahun sekali APIK mengadakan kegiatan sosial menyantuni ratusan anak yatim dan warga miskin. Dalam waktu dekat, APIK akan mendirikan Baitul Mal,” pungkas Yakoeb. (tok)