Enter your keyword

Resize Wizard-2                                                Resize Wizard-3

INOVASI BARU YANG BISA MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PADI ”PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU”

Tanaman terpadu (PTT) dengan komponen-komponennya meliputi :

  • Pengelolaan tanah
  • Pengelolaan air
  • Pengelolaan tanaman
  • Pengelolaan OPT (Organisme pengganggu tanaman), pada prinsipnya adalah pengelolaan usaha tani secara optimal, sehat, ramah lingkungan, disertai upaya pelestarian sumber daya alam pertanian

 

Tujuan :

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta memanfaatkan sumber daya alam dengan menerapkan teknologi yang di sesuaikan dengan kondisi daerah serta kebutuhan petani.

 

Pengertian :

  1. Pengelolaan tanaman terpadu adalah tindakan usaha tani secara terpadu yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman optimal, kepastian panen, mutu produk tinggi dan kelestarian liangkungan.
  2. Pengelolaan tanaman terpadu diartikan sebagai penerapan teknologi yang tepat pada seluruh tahapan usaha tani sejak dari pembibitan, panyiapan lahan hingga tahap pengolahan hasil dan pemasaran.

 

Komponen PTT

  1. Pengelolaan tanah/lahan :

–        Tanah diolah secara sempurna tujuannya untuk menyediakan media pertumbuhan yang baik dan mematikan gulma.

–        Kedalaman olah tanah ± 20 cm.

–        Setelah pengolahan tanah pertama sawah digenangi air selama 7-15 hari, kemudian olah tanah kedua di garu untuk meratakan tanah dan lumpur. Kemudian di pupuk dengan pupuk kompos sebanyak 2 ton/ha.

  1. Pengelolaan air

Pada pengelolaan tanaman terpadu pengelolaan air dengan sistem irigasi berselang ditujukan agar tanah mendapat aerasi beberapa kali sehingga tidak terlalu lama dalam kondisi anaerobik yaitu dengan cara mengatur waktu pemberian air dan waktu pengeringan sebagai berikut :

–        Waktu tanam kondisi sawah macak-macak.

–        Secara berangsur-angsur tanah diairi 2-5 cm sampai tanaman berumur 10 hst.

–        Pengeringan petakan sawah dilakukan dengan membiarkan air dalam petakan habis sendiri, biasanya kering setelah 5-6 hari tergantung cuaca dan tekstur tanah.

–        Setelah permukaan tanah retak selama 2 hari, petakan sawah kembali diairi setinggi 5-10 cm.

–        Pengeringan dan pengairan petakan sawah dilakukan sampai tanaman masuk fase pembungaan.

–        Pada saat fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen lahan terus digenangi air setinggi 5 cm.

–        Sejak 10 hari sebelum panen sampai saat panen lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.

Penerapan irigasi berselang difokuskan pada musim kemarau, sedangkan musim penghujan dapat dilakukan pada daerah irigasi yang menejemennya sudah baik. Manfaat irigasi berselang pada PTT adalah :

  • Memberi kesempatan bagi akar untuk mendapatkan aerasi yang cukup untuk perkembangan akar yang dalam dan intensif.
  • Mencegah keracunan besi pada tanaman padi.
  • Mencegah penimbunan asam-asam organik dan gas H2S yang dapat menghambat perkembangan akar.
  • Menaikan temperatur tanah sehingga dapat mengaktifkan mikroba yang bermanfaat bagi tanaman.
  • Membatasi perpanjangan ruas batang sehingga tanaman tidak mudah rebah.
  • Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif.
  • Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat masa panen.
  • Penggunaan air dapat dihemat sampai 40% sehingga areal sawah yang diairi dapat diperluas.
  1. Pengelolaan tanaman
    1. Pemilihan varietas

Dalam pemilihan varietas harus dipilih varietas unggul berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit yang sesuai dengan keinginan petani. Yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas adalah :

–             Pergiliran varietas (memutus siklus hidup hama terutama pada pola tanam padi-padi-palawija).

–             Pada musim hujan dipilih varietas tahan wereng dan penyakit.

–             Pada musim kemarau dipilih varietas yang relatif toleran kering dan kurang disukai hama penggerek.

  1. Penyiapan benih

Benih yang akan digunakanterlebih dahulu diberi perlakuan. Tujuannya untuk mencegah hama pada stadia awal perkecambahan, merangsang pertumbuhan akar, memperkecil resiko kehilangan hasil, memelihara dan memperbaiki kualitas benih. Benih yang digunakan dapat diseleksi dengan :

–             Larutan garam 3% yang digunakan benih yang tenggelam.

–             Larutan ZA perbandingan 1 kg ZA untuk 2,7 liter air.

–             Kebutuhan benih : 8-10 kg/ha.

  1. Pesemaian

–             Dipilih lokasi yang aman dari serangan tikus dan mudah dikontrol.

–             Lahan pesemaian bisa dilapangan, widik atau nampan.

–             Lahan pesemaian diberi pupuk kompos/sekam 2 kg/m2 untuk memudahkan pencabutan bibit.

  1. Tanam satu bibit muda per rumpun.

–             Bibit umur muda (10-15 hari) satu bibit per rumpun, untuk memberi kesempatan bagi tanaman untuk membentuk anakan lebih banyak.

–             Sistem tanam bisa jajar legowo atau tegel (30×30 cm/40×40 cm/25×25 cm).

–             Sistem jajar legowo pada baris kosong diantara unit legowo dibuat parit dangkal dan dapat berfungsi untuk mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi.

  1. Pemupukan

Pemberian pupuk bagi tanaman padi dalam PTT perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu ketersediaan hara dalam tanah kebutuhan hara tanaman, pH tanah serta sumber hara lainnya seperti K dan N dari bahan organik. Dengan demikian takaran pupuk dapat ditentukan.

  • Pupuk Nitrogen (N)

Tanaman padi sangat tanggap terhadap pupuk N karena banyak diperlukan, karena ketersediaannya selalu kurang sehingga cenderung menggunakan pupuk N secara berlebihan.

Optimalisasi penggunaan pupuk N dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan BWD (bagan warna daun) untuk mengukur warna daun padi dalam skala 1(kuning) mencerminkan tanaman sangat kekurangan N sampai 6(hijau tua) mencerminkan tanaman sangat kelebihan N. Dengan menggunakan BWD dapat diketahui berapa jumlah dan kapan pupuk harus diberikan.

  • Pupuk fospat (P)

Kebutuhan hara P pada tanaman relatif kecil bila dibanding dengan N atau K yaitu sekitar 10% dari jumlah hara N atau K, namun demikian ketersediaan P dalam tanah tergantung pada berbagai faktor seperti pH tanah, kandungan Fe, Al dan Ca tanah, tekstur, senyawa-senyawa organik mikroorganisme dalam tanah dan kondisi perakaran tanaman.

  • Kalium (K)

Ketersediaan dan sumber K cukup banyak di alam sehingga tanaman padi sawah kurang tanggap terhadap pemberian pupuk K. Kecuali pada lokasi yang kahat K, terjadi pencucian hara secara intensif (tanah bertekstur pasir), tanah sering mengalami kekeringan dan berkadar liat tinggi, daerah endemik penyakit blas. Anjuran pemberian K pada padi sawah 0-50 kg KCl/ha/musim.

  • Pupuk organik

Bahan organik tanah yang tersedia di Kab. Lamongan ± 2% tanah sudah mulai sakit dan sangat diperlukan pengembalian limbah padi ke lahan sawah. Untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah mengembalikan bahan organik sampai 5% diperlukan pemberian pupuk kompos (jerami) 2 ton/ha selama 3 tahun secara berturut-turut.

  1. Pengendalian tanaman pengganggu

Pengendalian gulma perlu dilakukan selama pertanaman penyiangan dengan landak, penyiangan dengan landak selain untuk membersihkan gulma juga untuk memperbaiki sistem aerasi akar sebanyak 3 kali yaitu pada 25 Hst, 35 Hst dan 45 Hst.

  1. Pengelolaan Tanaman Pengganggu

Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan pola tanam serempak untuk memutus siklus hidup hama. Hama yang perlu diamati adalah tikus terutama pada musim kemarau, pengendalian tikus pada musim hujan sebelum MK I akan mempengaruhi kondisi pertanaman pada MK II dan berlanjut pada MH, dimana kondisi tanaman yang paling rawan terhadap eksplosi hama dan penyakit seperti wereng coklat dan tungro adalah pada musim penghujan setelah kekeringan terutama setelah pertanaman MK II.

Langkah-langkah pengendalian hama tikus pada MK adalah :

  1. Tanam serempak pada hamparan 50 ha.
  2. Pemberdayaan kelompok tani (kelompok tani sehamparan).
  3. Persiapan lahan dan bahan untuk pengendalian tikus.
  4. Meningkatkan koordinasi antar petani dan aparat terkait agar pengendalian tikus dapat terlaksana dengan baik.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman pasca musim kemarau atau musim penghujan dapat dilakukan sebagai berikut :

–        Tidak melakukan penanaman padi diluar jadwal

–        Penggunaan varietas tahan sesuai dengan biotipe/ras patogen

–        Memonitor perkembangan hama wereng coklat, penggerek batang dan penyakit tungro

–        Penggunaan agen hayati

–        Apabila perkembangan hama dan penyakit melebihi ambang kendali perlu dilakukan pengendalian dengan pestisida yang tepat dan dengan cara dan waktu yang tepat

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

INOVASI BARU YANG BISA MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PADI ”PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU”

 

Tanaman terpadu (PTT) dengan komponen-komponennya meliputi :

·           Pengelolaan tanah

·           Pengelolaan air

·           Pengelolaan tanaman

·           Pengelolaan OPT (Organisme pengganggu tanaman), pada prinsipnya adalah pengelolaan usaha tani secara optimal, sehat, ramah lingkungan, disertai upaya pelestarian sumber daya alam pertanian

 

Tujuan :

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan daya tahan tanaman dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta memanfaatkan sumber daya alam dengan menerapkan teknologi yang di sesuaikan dengan kondisi daerah serta kebutuhan petani.

 

Pengertian :

a.         Pengelolaan tanaman terpadu adalah tindakan usaha tani secara terpadu yang bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan tanaman optimal, kepastian panen, mutu produk tinggi dan kelestarian liangkungan.

b.        Pengelolaan tanaman terpadu diartikan sebagai penerapan teknologi yang tepat pada seluruh tahapan usaha tani sejak dari pembibitan, panyiapan lahan hingga tahap pengolahan hasil dan pemasaran.

 

Komponen PTT

1.         Pengelolaan tanah/lahan :

        Tanah diolah secara sempurna tujuannya untuk menyediakan media pertumbuhan yang baik dan mematikan gulma.

        Kedalaman olah tanah ± 20 cm.

        Setelah pengolahan tanah pertama sawah digenangi air selama 7-15 hari, kemudian olah tanah kedua di garu untuk meratakan tanah dan lumpur. Kemudian di pupuk dengan pupuk kompos sebanyak 2 ton/ha.

2.         Pengelolaan air

Pada pengelolaan tanaman terpadu pengelolaan air dengan sistem irigasi berselang ditujukan agar tanah mendapat aerasi beberapa kali sehingga tidak terlalu lama dalam kondisi anaerobik yaitu dengan cara mengatur waktu pemberian air dan waktu pengeringan sebagai berikut :

        Waktu tanam kondisi sawah macak-macak.

        Secara berangsur-angsur tanah diairi 2-5 cm sampai tanaman berumur 10 hst.

        Pengeringan petakan sawah dilakukan dengan membiarkan air dalam petakan habis sendiri, biasanya kering setelah 5-6 hari tergantung cuaca dan tekstur tanah.

        Setelah permukaan tanah retak selama 2 hari, petakan sawah kembali diairi setinggi 5-10 cm.

        Pengeringan dan pengairan petakan sawah dilakukan sampai tanaman masuk fase pembungaan.

        Pada saat fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen lahan terus digenangi air setinggi 5 cm.

        Sejak 10 hari sebelum panen sampai saat panen lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen.

Penerapan irigasi berselang difokuskan pada musim kemarau, sedangkan musim penghujan dapat dilakukan pada daerah irigasi yang menejemennya sudah baik. Manfaat irigasi berselang pada PTT adalah :

·      Memberi kesempatan bagi akar untuk mendapatkan aerasi yang cukup untuk perkembangan akar yang dalam dan intensif.

·      Mencegah keracunan besi pada tanaman padi.

·      Mencegah penimbunan asam-asam organik dan gas H2S yang dapat menghambat perkembangan akar.

·      Menaikan temperatur tanah sehingga dapat mengaktifkan mikroba yang bermanfaat bagi tanaman.

·      Membatasi perpanjangan ruas batang sehingga tanaman tidak mudah rebah.

·      Mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif.

·      Menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat masa panen.

·      Penggunaan air dapat dihemat sampai 40% sehingga areal sawah yang diairi dapat diperluas.

3.         Pengelolaan tanaman

a.    Pemilihan varietas

Dalam pemilihan varietas harus dipilih varietas unggul berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit yang sesuai dengan keinginan petani. Yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas adalah :

             Pergiliran varietas (memutus siklus hidup hama terutama pada pola tanam padi-padi-palawija).

             Pada musim hujan dipilih varietas tahan wereng dan penyakit.

             Pada musim kemarau dipilih varietas yang relatif toleran kering dan kurang disukai hama penggerek.

b.    Penyiapan benih

Benih yang akan digunakanterlebih dahulu diberi perlakuan. Tujuannya untuk mencegah hama pada stadia awal perkecambahan, merangsang pertumbuhan akar, memperkecil resiko kehilangan hasil, memelihara dan memperbaiki kualitas benih. Benih yang digunakan dapat diseleksi dengan :

             Larutan garam 3% yang digunakan benih yang tenggelam.

             Larutan ZA perbandingan 1 kg ZA untuk 2,7 liter air.

             Kebutuhan benih : 8-10 kg/ha.

c.     Pesemaian

             Dipilih lokasi yang aman dari serangan tikus dan mudah dikontrol.

             Lahan pesemaian bisa dilapangan, widik atau nampan.

             Lahan pesemaian diberi pupuk kompos/sekam 2 kg/m2 untuk memudahkan pencabutan bibit.

d.    Tanam satu bibit muda per rumpun.

             Bibit umur muda (10-15 hari) satu bibit per rumpun, untuk memberi kesempatan bagi tanaman untuk membentuk anakan lebih banyak.

             Sistem tanam bisa jajar legowo atau tegel (30×30 cm/40×40 cm/25×25 cm).

             Sistem jajar legowo pada baris kosong diantara unit legowo dibuat parit dangkal dan dapat berfungsi untuk mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi.

e.    Pemupukan

Pemberian pupuk bagi tanaman padi dalam PTT perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu ketersediaan hara dalam tanah kebutuhan hara tanaman, pH tanah serta sumber hara lainnya seperti K dan N dari bahan organik. Dengan demikian takaran pupuk dapat ditentukan.

o    Pupuk Nitrogen (N)

Tanaman padi sangat tanggap terhadap pupuk N karena banyak diperlukan, karena ketersediaannya selalu kurang sehingga cenderung menggunakan pupuk N secara berlebihan.

Optimalisasi penggunaan pupuk N dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan BWD (bagan warna daun) untuk mengukur warna daun padi dalam skala 1(kuning) mencerminkan tanaman sangat kekurangan N sampai 6(hijau tua) mencerminkan tanaman sangat kelebihan N. Dengan menggunakan BWD dapat diketahui berapa jumlah dan kapan pupuk harus diberikan.

o    Pupuk fospat (P)

Kebutuhan hara P pada tanaman relatif kecil bila dibanding dengan N atau K yaitu sekitar 10% dari jumlah hara N atau K, namun demikian ketersediaan P dalam tanah tergantung pada berbagai faktor seperti pH tanah, kandungan Fe, Al dan Ca tanah, tekstur, senyawa-senyawa organik mikroorganisme dalam tanah dan kondisi perakaran tanaman.

o    Kalium (K)

Ketersediaan dan sumber K cukup banyak di alam sehingga tanaman padi sawah kurang tanggap terhadap pemberian pupuk K. Kecuali pada lokasi yang kahat K, terjadi pencucian hara secara intensif (tanah bertekstur pasir), tanah sering mengalami kekeringan dan berkadar liat tinggi, daerah endemik penyakit blas. Anjuran pemberian K pada padi sawah 0-50 kg KCl/ha/musim.

o    Pupuk organik

Bahan organik tanah yang tersedia di Kab. Lamongan ± 2% tanah sudah mulai sakit dan sangat diperlukan pengembalian limbah padi ke lahan sawah. Untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah mengembalikan bahan organik sampai 5% diperlukan pemberian pupuk kompos (jerami) 2 ton/ha selama 3 tahun secara berturut-turut.

f.     Pengendalian tanaman pengganggu

Pengendalian gulma perlu dilakukan selama pertanaman penyiangan dengan landak, penyiangan dengan landak selain untuk membersihkan gulma juga untuk memperbaiki sistem aerasi akar sebanyak 3 kali yaitu pada 25 Hst, 35 Hst dan 45 Hst.

4.         Pengelolaan Tanaman Pengganggu

Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan dengan pola tanam serempak untuk memutus siklus hidup hama. Hama yang perlu diamati adalah tikus terutama pada musim kemarau, pengendalian tikus pada musim hujan sebelum MK I akan mempengaruhi kondisi pertanaman pada MK II dan berlanjut pada MH, dimana kondisi tanaman yang paling rawan terhadap eksplosi hama dan penyakit seperti wereng coklat dan tungro adalah pada musim penghujan setelah kekeringan terutama setelah pertanaman MK II.

Langkah-langkah pengendalian hama tikus pada MK adalah :

a.    Tanam serempak pada hamparan 50 ha.

b.    Pemberdayaan kelompok tani (kelompok tani sehamparan).

c.     Persiapan lahan dan bahan untuk pengendalian tikus.

d.    Meningkatkan koordinasi antar petani dan aparat terkait agar pengendalian tikus dapat terlaksana dengan baik.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman pasca musim kemarau atau musim penghujan dapat dilakukan sebagai berikut :

        Tidak melakukan penanaman padi diluar jadwal

        Penggunaan varietas tahan sesuai dengan biotipe/ras patogen

        Memonitor perkembangan hama wereng coklat, penggerek batang dan penyakit tungro

        Penggunaan agen hayati

        Apabila perkembangan hama dan penyakit melebihi ambang kendali perlu dilakukan pengendalian dengan pestisida yang tepat dan dengan cara dan waktu yang tepat

No Comments

Add your review