Drh. Suparto

 (Pelopor Pemberdayaan Masyarakat bidang Peternakan)

suparto

Drh. Suparto mulai mengikuti program Sarjana Membangun Desa pada tahun 2008 dan pada tahun 2009-2013 menjabat sebagai ketua Assosiasi SMD Nasional. Penghargaan  yang di peroleh adalah sebagai SMD berprestasi tingkat Nasional tahun 2010 dan tahun 2013 dan juga menjadi juara SMD Sapi Potong tingkat Jawa Timur. Dengan prestasi yang diperolehnya dalam pemberdayaan masyarakat bidang peternakan, drh Suparto di anugerahi sebagai pelopor inspiratif dan pelaku pemberdayaan masyarakat di bidang  peternakan melalui program ”Kick Andi Heroes tahun 2014” yang di tayangkan pada tanggal  28 Februari 2014. Berikut ini profile Sarjana Membangun Desa dari Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring.

Orang desa jadi sarjana mungkin biasa. Tapi sarjana asal desa yang pulang kampung dan sukses membangun desanya bisa dibilang langka. Suparto, dokter hewan asal Lamongan, Jawa Timur, salah satunya. Dengan ilmu yang ia peroleh dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, ia mengubah desanya yang miskin menjadi desa peternakan yang makmur.

Seperti kebanyakan pemuda asal kampung, Suparto menyelesaikan pendidikannya dalam kondisi ekonomi sulit. Orangtuanya hanya buruh tani dan buruh ternak di Desa Gunungrejo, Kedungpring, Lamongan. Kebanyakan pemuda kampung seusianya hanya berijazah SD, paling tinggi SMP. Untuk membiayai pendidikannya di SMA, Suparto harus mencari uang sendiri dengan berjualan roti keliling.

Menyandang predikat lulusan terbaik tingkat fakultas tahun 2000, Suparto sempat bekerja di perusahaan peternakan asing. Tapi ia membatasi diri bekerja sebagai pegawai hanya untuk mencari pengalaman nyata di usaha peternakan dan mencari modal. Setahun bekerja di sana, lalu memilih untuk mengundurkan diri dan kembali ke desanya. Keputusan ini berlawanan dengan kebanyakan kawan-kawannya yang lebih memilih bekerja sebagai pegawai perusahaan.

Dengan modal tabungan 25 juta yang ia sisihkan dari gaji selama setahun, Suparto memulai usaha peternakan ayam petelur di desanya pada tahun 2001. Itu pun tak mudah, ia harus menerima cemooh warga desa, begitu juga dengan keluarganya, “Jauh-jauh kuliah ke Surabaya dengan biaya jutaan rupiah kok malah pulang ke desa memelihara ayam,” ceritanya. Tapi Suparto bersikukuh dengan pendiriannya. Dalam tempo satu tahun, ia sudah bisa menunjukkan bahwa usaha ternak ayam bisa menghasilkan banyak keuntungan.

Dengan 500 ayam petelur pada 2001, ternak ayam yang dirintis Suparto terus mengalami kemajuan. Warga pun mulai banyak yang melirik usaha ini. Suparto lalu mengajari mereka cara beternak sekaligus menampung dan menjual produksi telur lewat sistem koperasi. Ia bertindak sebagai konsultan tanpa bayaran bagi para warga peternak dan kemudian terbentuklah Kelompok Tani Ternak Gunungrejo Makmur (Selanjutnya disebut Kelompok Tani Ternah Gunungrejo Makmur I).

Di tahun 2008, ketika usaha ternak ayam makin maju, Suparto memperoleh informasi tentang Program Sarjana Membangun Desa (SMD) yang diadakan oleh Ditjen Peternakan, Kementerian Pertanian. Dengan modal pengalaman sebagai peternak ayam yang berhasil, ia mengikuti seleksi SMD. Setelah dinyatakan lolos, ia memperoleh hibah bersyarat dari Ditjen Peternakan kurang lebih 300 juta untuk mengembangkan kelompok ternak sapi potong di desanya. Dengan modal awal 34 ekor sapi, ia mengajak para warga desa yang biasanya menjadi buruh ternak untuk bergabung dalam Kelompok Tani Ternak Gunungrejo Makmur II.

Sebelum dibentuk Kelompok Tani Ternak Gunungrejo Makmur II itu, kebanyakan warga desa biasanya menjadi buruh ternak dengan sistem “Gado”. Mereka memelihara beberapa ekor sapi milik juragan. Sebagai imbal baliknya, mereka mendapatkan bagi hasil sebesar 50% dari harga jual sapi. Dengan sistem baru di kelompok Gunungrejo Makmur II, mereka memperoleh bagi hasil lebih tinggi, yakni sebesar 70% sedang dalam sistem gado, mereka biasanya hanya memperoleh penghasilan rata-rata 500 ribu perbulan. Tapi sejak bergabung dengan kelompok binaan itu, mereka bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 1 juta sebulan. Lewat Kelompok Tani Ternak Gunungrejo Makmur II, mereka menjual sapi langsung ke Rumah Potong Hewan (RPH) atau pengguna-pengguna di Jakarta, tidak lagi lewat makelar. Karena rantai penjualan diperpendek, keuntungan mereka pun otomatis lebih besar.

Dulu masyarakat di Gunungrejo tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan limbah ternak seperti urine dan kotoran sapi. Setelah mengenal teknologi yang dibawa oleh Suparto, mereka kini bisa mengubah urine sapi menjadi pupuk cair serta memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber biogas dan kompos.

Lima tahun program SMD ini berjalan, jumlah sapi mencapai 258 ekor dari modal semula yang hanya 34 ekor. Aset terakhir ini bernilai sekitar 2 miliar. Sekarang hasil usaha ternak sapi ini bisa dinikmati oleh 60 orang anggota. Sebagian besar warga yang dulu biasanya hanya menjadi buruh ternak, kini telah menjadi peternak mandiri. Bahkan, sebagian anggota kelompok tani ternak ini berasal dari desa-desa sekitar, tak hanya dari Desa Gunungrejo. Dengan Motivasi dari kelompok tani ini , pada akhir tahun 2013 populasi sapi di Desa Gunungrejo mencapai 800 ekor dan ayam petelur mencapai 75.000 ekor.

Tak mudah menuju sukses ini. Pernah pada tahun 2003 ternak ayam Suparno mengalami kerugian karena flu burung. Belum lagi pandangan kolot warga desa, hingga gelar sarjana dokter hewan pun tak mampu ‘merayu’. Selain itu, ada lagi tantangan yang paling sulit dihadapi adalah masalah penjualan produk akhir, terutama untuk sapi potong. Kebijakan impor sapi Australia dalam jumlah yang besar oleh pemerintah, cukup meresahkan Suparto dan peternak lokal lainnya.

Suparto meyakini masih banyak peluang yang belum digarap. Jika potensi itu bisa digarap dengan baik, warga desa tak perlu bekerja sebagai buruh di kota atau di luar negeri. Dalam pandangannya, mudik untuk membangun desa mestinya menjadi kesadaran di kalangan sarjana asal dusun sebagai bentuk tanggung jawab sosial.(rpes)