Lomba Cipta Menu Non Beras Non Terigu

1Salah satu upaya untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan memperbaiki kualitas konsumsi pangan masyarakat. Konsumsi yang berkualitas dapat diwujudkan apabila makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung zat gizi lengkap sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan jumlah yang berimbang antar kelompok pangan. Pola konsumsi pangan yang sehat tersebut perlu disosialisasikan kepada masyarakat untuk menumbuhkan dan/atau meningkatkan kesadaran mereka terhadap “Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman”.

2.1Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan setiap tahunnya melaksanakan Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman sebagai salah satu bentuk sosialisasi konsumsi pangan B2SA. Pelaksanaan Lomba Cipta Menu ini, sumber karbohidrat dari menu yang disusun untuk keluarga tetap menggunakan bahan selain beras dan terigu.

3.1

Peserta lomba akan menyajikan menu makanan dalam bentuk display. Menu yang disajikan adalah menu beragam, bergizi, seimbang dan aman non beras non terigu yang dapat diterapkan sebagai menu keluarga sehari-hari dan bukan hanya pada saat lomba saja.

4.1

Dalam sambutannya Bapak Drs. Hanny Handono Warih, MM, selaku Kepala Kantor Ketahanan Pangan, menyatakan “Setiap individu harus mampu memahami arti konsumsi pangan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) dikonsumsi mengingat tidak ada satupun bahan pangan yang mempunyai kandungan gizi yang lengkap, sehingga untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif setiap orang harus mengkonsumsi aneka ragam pangan secara seimbang, baik berasal dari pangan sumber karbohidrat (beras, jagung, umbi-umbian), protein hewani, protein nabati, lemak, vitamin dan mineral.”

6.1Memanfaatkan bahan pangan lokal yang beranekaragam di sekitar kita diharapkan dapat menghindari ketergantungan terhadap komoditi beras dan terigu yang akhir-akhir ini kebutuhannya selalu mengalami peningkatan yang signifikan.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras maka perlu dukungan tersedianya pangan beranekaragam yang sangat bergantung pada kondisi sumber daya alam setempat dan untuk dapat menghasilkan berbagai produk pangan serta meningkatkan citra pangan lokal. Hal ini juga dimaksudkan untuk melindungi dan mempertahankan identitas makanan tradisional dan pangan olahan non beras di masing-masing wilayah kecamatan.

7.1Lomba Cipta Menu Non Beras Non Terigu dilaksanakan pada tanggal 3 Oktober 2013 di Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan Jl. Andansari no. 51 Lamongan dan diikuti oleh 12 desa dari 7 kecamatan yang mendapat bantuan Program P2KP (Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan) tahun 2013, yaitu Kelurahan Tumenggungan (Kecamatan Lamongan), Desa Mantup dan Rumpuk (Kecamatan Mantup), Desa Kuluran (Kecamatan Kalitengah), Desa Sugihan dan Solokuro (Kecamatan Solokuro), Desa Pataan dan Nogojatisari (Kecamatan Sambeng), Desa Karangwungu dan Kawistolegi (Kecamatan Karanggeneng) serta Desa Windu dan Gawerejo (Kecamatan Karangbinangun). Peserta Lomba Cipta Menu dibagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok makan pagi, siang dan malam.

8.1Dan pemenang Lomba Cipta Menu Non Beras Non Terigu tahun 2013 adalah Juara I Desa Kuluran Kecamatan Kalitengah, Juara II Kelurahan Tumenggungan Kecamatan Lamongan dan Juara III Desa Rumpuk Kecamatan Mantup, sedangkan Juara Harapan I diraih oleh Desa Kawistolegi Kecamatan Karanggeneng, Juara Harapan II Desa Sugihan Kecamatan Solokuro dan Juara Harapan III Desa Gawerejo Kecamatan Karangbinangun.

 

 

Pengembangan Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Lamongan

Mandiri 1Kegiatan Pengembangan Desa Mandiri Pangan merupakan salah satu upaya dari Pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, serta pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil. Pelaksanaan kegiatan Desa Mandiri Pangan dilakukan dalam 4 tahapan (4 tahun), meliputi Tahap Persiapan, Penumbuhan, Pengembangan, dan Kemandirian.

Kegiatan Pengembangan Desa Mandiri Pangan  dilaksanakan di 5 desa pada 3 kecamatan di Kabupaten Lamongan yaitu :

  1. Desa Pangkatrejo kecamatan Sugio memasuki tahap Kemandirian
  2. Desa Sukomalo Kecamatan Kedungpring memasuki tahap Kemandirian
  3. Desa Plososetro Kecamatan Pucuk memasuki tahap Kemandirian
  4. Desa Jubel Kidul Kecamatan Sugio memasuki tahap Pengembangan
  5. Desa Sidorejo Kecamatan Sugio memasuki tahap Penumbuhan

mandiri 2Pelaksanaan kegiatan Desa Mandiri Pangan, melalui, (1) pemberdayaan masyarakat miskin, (2) penguatan kelembagaan masyarakat dan pemerintah desa, (3) pengembangan system ketahanan pangan, dan (4) peningkatan koordinasi lintas sector untuk mendukung pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pedesaan.

Fasilitasi pemerintah melalui pendampingan dan bantuan sosial (bansos), diharapkan mampu mengoptimalkan sumber daya alam, sumber daya manusia, dana, teknologi dan kearifan lokal untuk menggerakan system ketahanan pangan dari aspek (1) subsistem ketersediaan pangan dalam peningkatan produksi dan cadangan pangan masyarakat, (2) subsistem distribusi yang menjamin kemudahan akses fisik, peningkatan daya beli, serta menjamin stabilisasi pasokan dan (3) subsistem konsumsi untuk peningkatan kualitas pangan dan pengembangan diversifikasi pangan.

Mandiri 3Bansos yang disalurkan kepada masyarakat dikelola oleh Lembaga Keuangan desa (LKD) yang berfungsi sebagai layanan modal dan diharapkamn lembaga layanan keehatan / posyandu bersama kader gizi dan PKK mampu menggerakkan masyarakat dalam merubah mind set atau pola pikir tentang pentingya ketahanan pangan tingkat rumah tangga.

 

Indikator output yang diharapkan antara lain (1) terbentuknya kelompok – kelompok afinitas yang mengembangkan usaha produktif, (2) terbentuknya LKD dan tersalurnya dana bansos untuk menambah permodalan usaha produktif. Diharapkan upaya ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan daya beli, gerakan tabungan masyarakat, peningkatan ketahanan pangan rumah tangga, perubahan pola pikir masyarakat tentang pentingnya pangan, serta peningkatan keterampilan dan pengetahuan masyarakat.

 

Laporan Berkala Kondisi Ketahanan Pangan Kab. Lamongan

lap 1Pembangunan Ketahanan Pangan di Kabupaten Lamongan harus dipandang sebagai bagian tidak terlepaskan dari wawasan ketahanan pangan regional / nasional. Keberhasilan Ketahanan Pangan di Kabupaten Lamongan sebagai wilayah yang surplus pangan di Jawa Timur, maka berkewajiban mempertahankan dan memacu pembangunan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan Ketahanan Pangan merupakan suatu proses yang terus menerus dan diupayakan membawa dampak yang luas pada seluruh sektor pembangunan. Harapan ini memang obyektif mengingat aspek yang diamati dalam ketahanan pangan tidak hanya aspek ketersediaan tapi juga aspek – aspek lainnya, seperti distribusi dan akses pangan yang mengarah pada upaya peningkatan pendapatan masyarakat, juga konsumsi / penyerapan pangan yang mengarah pada pembangunan sumberdaya manusia yang sehat dan produktif. Dimensi pembangunan Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan secara menyeluruh di setiap sektor akan dapat terlaksana dengan efektif jika memiliki arah yang jelas dan terukur kinerjanya.

Laporan Berkala Kondisi Ketahanan Pangan merupakan suatu kegiatan dari Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan yang bertujuan memonitoring dan mengevaluasi data pangan di Kabupaten Lamongan. Untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut dibentuk Tim Teknis Kabupaten yang beranggotakan Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan, Dinas Pertanian dan kehutanan Kabupaten Lamongan, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lamongan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan melalui Surat Keputusan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan dan bersekretariat di Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan.

lap 2Tim Teknis Kabupaten mempunyai tugas menyampaikan laporan berkala ( setiap bulan ), semester ( 6 bulan ), tahunan dan insidentil meliputi aspek ketersediaan, distribusi pola konsumsi pangan,  indikator kerawanan pangan serta sistem kewaspadaan pangan dan gizi ke Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan serta mengkoordinasikannya dengan agenda rapat koordinasi Tim Teknis Kabupaten setiap 3 Bulan sekali yang bertempat di Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan.

Dengan demikian aktifitas kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan sebagai hasil dari kegiatan dimaksud dengan berbagai temuan dan permasalahan di bahas dan diupayakan pemecahannya sesuai dengan kewenangan untuk perumusan kebijakan Ketahanan Pangan di Kabupaten Lamongan di bulan dan tahun berikutnya.

Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Plus Plus

Kawasan Rumah Pangan Lestari Plus Plus merupakan gerakan dari dan untuk masyarakat pedesaan mulai tingkat desa sampai dengan tingkat Rumah Tangga bekerja sama dengan Ibu-ibu Tim Penggerak PKK mulai tingkat Provinsi sampai dengan tingkat Dasa Wisma, dan memanfaatkan Koperasi Wanita serta Posyandu/PAUD, sedangkan instansi pemerintah hanya berfungsi sebagai motivator, fasilitator dan stabilisator terhadap gerakan tersebut.

Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Plus Plus ini akan memanfaatkan lahan pekarangan, fasilitas umum milik desa, kanan kiri jalan desa dan fasilitas penunjang lainnya untuk pengembangan tanaman sumber karbohidrat, protein, vitamin dan tanaman Cash Crop (tanaman penghasil uang), ternak dan ikan yang hasilnya dapat dikonsumsi untuk menambah gizi keluarga dan menambah pendapatan keluarga.

Tujuan utama model pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Plus Plus yaitu : (1) meningkatkan ketersediaan dan cadangan pangan hidup keluarga; (2) meningkatkan penganekaragaman pangan; (3) meningkatkan kualitas gizi keluarga; (4) meningkatkan pendapatan keluarga; (5) menumbuhkembangkan ekonomi kreatif di setiap desa.

Sasaran dari pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Plus Plus di Kabupaten Lamongan adalah 3 desa melalui : (1) Pemberdayaan Ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK desa dan dasa wisma sebagai pelaku dan pengelola pekarangan; (2) menumbuhkembangkan kebun bibit desa dan sarana penunjang lainnya; (3) meningkatkan peran koperasi wanita yang ada disetiap desa sebagai sumber permodalan penyedia agroinput dan pemesan hasil produksi baik segar maupun olahan; dan (4) meningkatkan peran POSYANDU/PAUD sebagai sarana peningkatan gizi keluarga.

Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP)

23012013807Penganekaragaman pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

Secara umum upaya penganekaragaman pangan sangat penting untuk dilaksanakan secara massal, mengingat trend permintaan terhadap beras kian meningkat seiring dengan derasnya pertumbuhan penduduk, semakin terasanya dampak perubahan iklim, adanya efek pemberian beras bagi keluarga miskin (Raskin) sehingga semakin mendorong masyarakat yang sebelumnya mengonsumsi pangan pokok selain beras menjadi mengonsumsi beras (padi), serta belum optimalnya pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber pangan pokok bagi masyarakat setempat.

Sebagai bentuk keberlanjutan program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal tahun 2010, pada tahun 2013 program P2KP diimplementasikan melalui kegiatan: (1) Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Disamping untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, gerakan P2KP ini juga ditujukan untuk meningkatkan keragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat agar lebih beragam, bergizi seimbang dan aman guna menunjang hidup sehat yang aktif dan produktif.

Tujuan kegiatan P2KP yaitu (1) meningkatkan kesadaran dalam mewujudkan pola konsumsi pangan yang B2SA serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan pokok beras; (2) Meningkatkan partisipasi kelompok wanita dalam penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan sebagai penghasil sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral untuk konsumsi keluarga; dan (3) Mendorong pengembangan usaha pengolahan pangan sumber karbohidrat  selain beras dan terigu.

Adapun sasaran lokasi kegiatan P2KP di Kabupaten Lamongan untuk Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep KRPL dilaksanakan di 12 desa baru dan 5 desa lanjutan tahun 2012.

Lumbung Pangan

PIC_1076Lumbung pangan bukan hanya sosok fisik tempat menyimpan cadangan pangan tetapi mempunyai arti yang lebih luas yaitu lembaga untuk masyarakat yang bergerak di bidang penyimpanan pendistribusian, pengolahan dan perdagangan pangan yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat.

Pada saat ini sebagian besar lumbung berfungsi sebagai lembaga cadangan pangan masyarakat untuk mengatasi masa paceklik. Pengelolaanya masih bersifat sosial dan terbatas pada kegiatan simpan pinjam dalam bentuk natura dengan skala yang relatif kecil.

PIC_1106Lumbung pangan yang diharapkan pada masa mendatang adalah lumbung yang berkembang menjadi lembaga usaha berbasis pangan dengan manajemen profesional. Lumbung pangan diharapkan bisa menjadi lembaga yang dapat mengatasi merosotnya harga pangan pangan pada saat panen raya. Melalui kelembagaan lumbung pangan diharapkan beberapa kegiatan mulai pra panen sampai dengan pasca panen dapat dilakukan, tidak hanya menampung hasil sebagai cadangan pangan, tetapi juga untuk penyediaan saprodi, kios serta menunda penjualan ( tunda jual), meningkatkan kualitas serta mengulah hasil pertanian, memasarkan produk pertanian pada saat yang dikehendaki serta mempunyai usaha produktif, sehingga lembaga yang bersangkutan bisa memperoleh nilai tambah bagi anggotanya serta pada akhirnya dapat memecahkan masalah sendiri di desanya (mandiri).

PIC_1066Tujuan pengadaan gudang lumbung pangan, lantai jemur dan sarana pengolahan hasil adalah meningkatkan peranan lumbung pangan dalam penyediaan cadangan pangan masyarakat di pedesaan dan meningkatkan pendapatan anggota kelompok lumbung pangan, serta mengembangkan fungsi lumbung tidak hanya simpan pinjam gabah, mendorong dan meningkatkan usaha produktif pengolahan hasil dan sarana pengolahan hasil.

Kegiatan pengadaan gudang lumbung pangan, lantai jemur dan sarana pengolahan hasil pada tahun 2013 dengan sasaran Kelompok Lumbung Pangan di Kec. Deket, Kec. Sekaran, Kec. Lamongan, Kec. Mantup, Kec. Laren, Kec. Kembangbahu dan Kec. Karanggeneng.